Penutupan Lokalisasi: Solusi atau Masalah?

Malam ini kembali tertarik dengan bahasan lokalisasi, saat membaca kicauan dari seorang teman yang kebetulan juga peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tentang kawasan Dolly di Surabaya. Yah, siapa sih yang tidak pernah mendengar tentang kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara ini. Konsumennya bukan hanya sekedar kelas bawah atau jalanan lagi, tapi banyak bos-bos berdompet tebal yang menggunakan tempat ini sebagai tempat bernegosiasi dengan kolega mereka.

Kawasan Dolly hanyalah satu dari sekian banyak kawasan lokalisasi lain di Indonesia, baik yang masih beroperasi, sudah ditutup tapi masih melakukan aktifitas secara tersembunyi, ataupun kawasan yang benar-benar sudah ditutup. Sebut saja kawasan Pasar Kembang (Sarkem) di Yogyakarta, Saritem di Bandung, Sintai di Batam, Kramat Tunggak dan Kalijati di Jakarta, ataupun daerah seperti Indramayu yang terkenal sebagai penghasil wanita penghibur (maaf ya buat yang dari Indramayu).

Keberadaan lokalisasi selalu menjadi kontroversi, dan itu wajar. Bagaimanapun juga prostitusi adalah hal yang dilarang, dan ini malah sengaja dibuatkan lokasi khusus. Dilihat dari norma sosial, bagaimanapun keberadaannya sudah jelas salah, apalagi dari sisi agama. Tapi ada baiknya bila cara berpikir kita agak sedikit dibalik.

Menutup lokalisasi tidak akan menyelesaikan masalah, malah hanya akan menimbulkan masalah baru. Misalnya pemerintah menutup lokalisasi, apakah ada jaminan pekerjanya akan ‘pensiun’ begitu tempat kerja mereka ditutup? Seperti layaknya karyawan biasa, kalau perusahaan bangkrut dan mereka di-PHK, maka mereka akan mencari tempat kerja baru, atau mengembangkan jiwa wirausaha dengan ‘bekerja’ sendiri. Dan menurut saya ini lebih buruk.

Saya bilang buruk karena mereka akan kembali ke jalanan untuk mendapatkan pelanggan, dan ini berarti menambah masalah. Karena jujur saja, meskipun saya tidak keberatan dengan PSK selama tidak mengganggu, tapi kalau melihat mereka berkeliaran di jalanan dengan dandanan yang menyolok itu bikin sakit mata. Sekali lagi saya mohon maaf untuk yang pekerjaannya di bidang ini.

Lagi pula, dibanding di jalanan akan jauh lebih baik bila semuanya bisnis syahwat ini dipusatkan di satu kawasan saja. Selain masyarakat juga ga risih dengan keberadaan mereka, pelanggan juga akan lebih mikir-mikir untuk berkunjung kesana dibanding kalau bertemu di jalanan, hotel atau ruang publik lainnya. Tapi yang terakhir tentu saja tidak berlaku untuk yang sudah putus urat malunya.

Makanya, untuk saat ini lokalisasi saya rasa adalah pilihan terbaik dari semua pilihan yang buruk. Mendukung lokalisasi bukan berarti mendukung komersialisasi seks dan tanda-tanda kemunduran moral masyarakat, tapi justru untuk melindungi masyarakat itu sendiri. Kecuali ada jaminan bahwa menutup kawasan lokalisasi akan mengakhiri semua bisnis syahwat, maka menutup lokalisasi buat saya bukanlah pilihan.

Cuma mungkin pemerintah dan kita semua perlu memikirkan solusi yang lebih baik, sambil berusaha mengurangi jumlah para pekerjanya. Misalnya dengan membuat kawasan khusus yang tidak bercampur dengan pemukiman sehingga tidak menimbulkan konflik sosial.

One comment

  1. Pingback: Dilema Menteri Kondom | find everything here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: