SIM Anak

Beberapa hari lalu, di forum kaskus.co id ada postingan yang mempertanyakan mengapa melarang anak dibawah umur 17 tahun mengendarai kendaraan bermotor dan memperoleh SIM, dengan mengedepankan contoh Michael Sumacher memperoleh SIM di usia 12 tahun dan pembalap Indonesia Rio Haryanto di usia 15 tahun. Di postingan yang akhirnya dihapus itu, treat starter (TS) menyebutkan bahwa jelas lebih baik AQJ yang berusia 13 tahun tapi sudah mahir membawa mobil daripada orang dewasa misal berumur 31 tahun tapi belum pernah megang mobil.

Postingan tersebut dibuat berkenaan dengan kecelakaan yang dialami anak pasangan musisi terkenal yang menyebabkan setidaknya tujuh jiwa meninggal. Anak yang masih berusia 13 tahun itu membawa mobil sport berjenis sedan dan mengalami kecelakaan di jalan tol Jagorawi setelah mengantar pacarnya.

Ada beberapa kelemahan yang terdapat di dalam pernyataan tersebut. Pertama fakta Michael Schumacer memperoleh license di umur 12 tahun. Tapi mungkin TS-nya kurang jeli, di situs http://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Schumacher yang menjadi acuannya tertulis bahwa yang diperolehnya di usia 12 tahun adalah lisensi untuk mengendarai gokart di lintasan balap dan bukan lisensi untuk kendaraan di jalanan umum. Selain lintasan balap itu tidak sekompleks jalanan umum, jangan lupa juga bahwa mengendarai kendaraan balap professional jenis apapun selalu disertai standar pengamanan terbaik termasuk pakaian. Bandingkan dengan anak-anak di Indonesia yang kebanyakan masih merasa bahwa helm itu sangat tidak fashionable.

Kedua adalah membandingkan anak-anak yang sudah mahir membawa motor/mobil dengan orang dewasa yang sama sekali belum pernah belajar menyetir. Dari segi teknis memang bisa saja si anak menang, tapi mengendarai kendaraan bukan sekedar teknik semata. Kematangan dan kestabilan emosi juga menjadi pertimbangan utama kenapa tidak seharusnya anak-anak diberikan mainan berbahaya tersebut.

Secara fisik anak-anak sekarang juga lebih baik dibanding saat saya masih anak-anak dulu, sehingga di usia awal belasan tahun sudah cukup menguasai kendaraan bermotor. Kaki mereka bisa menginjak pedal gas dan kopling tanpa kesulitan, fisik juga cukup tinggi sehingga bisa melihat keadaan disekitar tanpa kesulitan dari dalam mobil. Tapi fisik dan kemampuan bukan semata-mata syarat yang dibutuhkan.

Ada juga pengetahuan seputar jalanan dan hal lain yang perlu diketahui selain teknik menyetir semata. Saya sendiri technically bisa menyetir mobil, tapi sampai saat ini hampir tidak pernah mengendarainya sendiri. Meskipun saya sudah cukup umur, dan secara emosi tentunya sudah cukup stabil juga, tapi saya buruk dalam mengira dan mengukur. Kedengarannya sepele namun buat saya sangat penting, karena saya jadi tidak bisa menentukan kapan saya harus mengerem bila ada kendaraan lain di depan saya, saya juga tidak bisa memotong atau menyalip kendaraan lain yang berjalan pelan karena saya tidak cukup yakin apakah masih cukup space untuk saya lewat. Artinya saya tidak akan berhasil di jalanan. Bahkan untuk motorpun saya masih sering mengalaminya padahal ukurannya tidak jauh berbeda dengan ukuran tubuh sendiri.

Apalagi bila kita lihat di jalanan, kebanyakan anak-anak justru membawa kendaraan dengan seenaknya. Naik motor tanpa standar pengamanan seperti helm dan tidak jarang tiga orang berboncengan di satu motor. Itu belum dihitung dengan pelanggaran lain seperti kaca spion yang dicopot dengan alasan norak dan kuno, modifikasi yang dilakukan berlebihan sehingga mengganggu pengguna jalan lainnya. Itu semua hanyalah sedikit dari kenyataan bahwa memang tidak sepatutnya memberikan anak-anak kendaraan sendiri.

Kebanyakan anak-anak, dan juga sebagian orang dewasa, di Indonesia tidak begitu memahami rambu-rambu jalanan, dan kalaupun mengetahui artinya kebanyakan juga merasa tidak begitu penting mematuhinya terutama bila tidak ada petugas. Buat anak-anak, ini juga berkaitan dengan yang mungkin sering disebut energi masa muda, dan ya itu tadi, masih belum stabilnya emosional mereka. Keinginan mengaktualisasikan diri, menunjukkan kepada kelompoknya bahwa dia orang yang berani dan lain-lain. Atau juga merasa adrenalinnya terpacu bila melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan yang berlaku.

Dan di sinilah peran orangtua dibutuhkan. Kita, pemerintah, atau siapapun tentunya tidak bisa melarang orang tua yang mengajari anaknya mengendarai kendaraan bermotor di usia muda. Tapi para orangtua sendirilah yang berkewajiban mengingatkan anak-anaknya, bahwa ada aturan yang harus diikuti bila ingin mengendarainya, bahwa jalan yang akan dilalui bukan milik sendiri sehingga juga ada aturan yang harus dipatuhi, bahwa bila tidak hati-hati dan tidak mengikuti aturan-aturan tersebut ada harga yang sangat mahal yang harus dibayar, harga yang bahkan mungkin tidak pernah bisa dibayar seumur hidup.

About these ads

One comment

  1. Teknologi juga punya andil. Celakanya teknologi tidak soal baik melulu. Pintar balap di TimeZone, PS dan lain2, jelas beda sama ngebut di jalan umum. Juara balap di TimeZone tak seasyik ngebut di jalan umum. Menang balap di PS mana bisa dibanggakan. Tapi, ngebut di jalan betulan bahayanya juga betulan.

    Ohya, saya tak pernah nongkrong di Time Zone, dan gagap PS. Game saya jaman dulu cuma Tetris di GameWatch. Sekarang emang dah agak ningkat sih: Free Cell, Solitaire, Minesweper dan Heart, hahaha…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: