Sebelum atau Sesudah Makan

Melanjutkan posting sebelumnya, masih tentang obat nih… kan tadi berawal dari pernyataan “Diminum Tiga Kali Sesudah Makan”. Pembahasan tiga kali seharinya udah, sekarang kita coba sedikit mengupas yang kata-kata berikutnya,sesudah makan

Di dalam ilmu kefarmasian, obat diminum berkaitan dengan makanan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu obat yang diminum sebelum makan, setelah makan, dan obat yang diminum bersama makanan.

Sangat umum di dalam masyarakat bahwa obat-obatan yang diminum sebelum makan berarti kita minum obat, lalu setelahnya makan makanan berat, atau makanan pokok, sebutlah nasi. Seperti juga halnya obat yang setelah makan, lansung setelah suap terakhir makanan, maka obat pun diminum.

Sangat sedikit yang menyadari bahwa yang seperti itu sebenarnya membuat obat diminum seperti bersama makanan. Dan seperti juga fenomena Tiga Kali Sehari, bukan hanya masyarakat awam, bahkan dokter dan apoteker pun sering luput terhadap hal yang satu ini, luput mengingatkan pasien termasuk juga saat menggunakan sendiri.

Sebenarnya, obat diminum sebelum makan berarti meminum obat sekitar satu jam sebelum makan. Berarti, bila ingin makan pagi pukul 7.00, maka obat tersebut harus diminum pukul 6, contoh obatnya yang sangat mudah adalah antasida dan captopril. Sedangkan obat-obat yang diminum setelah makan berarti juga kira-kira satu-dua jam setelah makan, contohnya ranitidine dan cimetidin. Sedangkan bila terlalu mepet dengan waktu makan, itu akan dianggap bersam makanan. Contoh obat yang diminum bersama makanan adalah bactricid yang digunakan pada pengobatan infeksi saluran dalam tubuh.

Bedanya apa..? obat yang diminum sebelum dan sesudah makan berarti diminum saat perut dalam keadaan kosong. Satu jam sebelum makan berarti perut masih kosong, sedangkan dua jam setelah makan, perut juga sudah kosong kembali. Ini biasanya dimaksudkan untuk obat-obatan yang akan rusak, atau memberikan reaksi yang tidak diinginkan bila diberikan bersama makanan. Dan perbedaan antara keduanya, setelah makan, meskipun kosong, perut sudah cukup terlindungi oleh makanan yang dimakan sebelumnya.

Sedangkan obat yang diberikan bersama makanan, bisa karena obatnya memang butuh makanan untuk membentuk kmpleks, atau agar perut terlindungi dari obat tersebut.  Selain itu, makanan juga akan mempengaruhi keasaman lambung yang bisa saja berefek terhadap penyerapan obat itu sendiri.

Namun, untuk hal ini, memang sangat dibutuhkan orang-orang yang mengerti tentang obat, terutama apotekernya, untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang mana obat yang harus diminum dalam perut keadaan kosong atau bersama makanan. Meskipun belakangan produsen juga sudah mengupayakan untuk memproduksi obat yang tidak terlalu mempermasalahkan keberadaan atau ketiadaan makanan di dalam lambung, tapi tetap ada beberapa obat penting yang tetap membutuhkan kondisi khusus. Contoh gampangnya captopril sebagai obat penurun tekanan darah. Ga lucu kan kalau tekanan darah mereka malah makin tinggi karena marah obatnya ga berefek, akibat dari ketiadaan pemahaman tatacara penggunaan obatnya..??

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s