Mundur Sama dengan Aib

Semestinya judul di atas, untuk ulasan pendek ini, diberi tanda tanya (?) sehingga akan tertulis menjadi “Mundur Sama dengan Aib?”

Mengapa dengan tanda tanya? Karena memang, kita tidak mengenal atau sengaja tidak mengenal  atau melupakan budaya mundur, budaya mengundurkan diri kalau berbuat salah, entah salah omong, salah ucap, salah tindakan, salah kebijakan, atau karena kinerjanya dianggap tidak bagus, atau oleh sebab-sebab lain.

Kita hanya selalu mendengar dari negara lain, semisal Jepang, ada pejabat tinggi, entah menteri atau perdana menteri, yang mengundurkan diri. Berita terakhir adalah pengunduran diri Menteri Ekonomi, Industri, dan Perdagangan Yoshio Hachiro, yang baru dilantik delapan hari menjadi menteri. Ia mengundurkan diri lantaran memberikan komentar: daerah yang ditinggalkan dekat PLTN Fukushima sebagai “kota kematian”.

Komentarnya biasa saja. Namun, sebagai pejabat tinggi, komentar itu dirasakan tidak pantas karena komentar tersebut dalam bahasa kita “tidak menyejukkan”, tetapi justru membuat keresahan. Bukankah segala tindak dan laku, segala omongan dan komentar seorang pejabat akan diperhatikan dan dicontoh? Pejabat jangan asal omong, tanpa berpikir panjang akan akibat dari omongannya itu.

Oleh karena itu, dikenal yang namanya etika. Ada etika pejabat, ada etika public. Etika lebih dipahami sebagai refleksi atas baik/buruk, benar/salah, yang harus dilakukan atau bagaimana melakukan yang baik atau yang benar.

Bukan kali ini saja di Jepang ada yang mengundurkan diri. Maret lalu, Menteri Luar Negeri Seiji Maehara mundur karena diberitakan menerima donasi dari pihak asing. Sebelumnya lagi, Menteri Keuangan Soichi Nakagawa juga mundur. Sebelumnya masih banyak lagi. Bagaimana di negeri kita? Kita mendengar Wakil Bupati Garut Dicky Chandra mengajukan pengunduran diri. Apa dan mengapa belum begitu jelas, dan kini prosesnya pun belum jelas.

Harus kita akui, mundur dari jabatan karena gagal mengemban tugas bukan dan belum pernah menjadi budaya kita. Seperti budaya malu yang hampir musnah dalam kamus pejabat kita, mundur bahkan sering dianggap aib karena menganggap masyarakat seolah akan seterusnya menorehkan tinta hitam.

Padahal, mengundurkan diri bisa sangat berarti untuk menunjukkan integritas moral. Akan tetapi, untuk sampai ke tindakan itu – mengundurkan diri- dibutuhkan integritas pribadi. Nah, di sinilah persoalannya. Adakah integritas pribadi di antara pejabat kita yang semestinya mundur karena disebut-sebut menerima suap, tersangka korupsi, berurusan dengan hokum, kinerjanya tidak baik, dank arena sebab lain. Kiranya kita gagal menjadi bangsa besar karena kita kehilangan rasa malu, termasuk malu untuk mundur.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: