Belajar dari Korean Wave dan Taiwan, Touch Your Heart

Dalam kurun waktu 2000-2010 Korea Selatan sukses meningkatkan jumlah wisatawan dari 5 juta menjadi 8,5 juta setiap tahunnya. Sukses serupa juga dipetik Taiwan yang melipatduakan jumlah turis dari 2,6 juta menjadi 5,6 juta pada periode yang sama. Apa yang dilakukan kedua negara itu?

Pertama-tama, Korea memiliki bandara yang sangat welcome terhadap wisatawan asing dan melukiskan  cinta mereka sebagai daerah tujuan wisata berkelas dunia. Karena hampir semua turis international memasuki Korea melalui Incheon International Airport, mereka membangun bandara ini secara luar biasa sampai memenangi gelar bandara terbaik di dunia tahun 2006.

Selain bandara, sukses pariwisata Korea juga didukung oleh jaringan kereta api dan bus,di mana hampir semua daerah pariwisata dapat dijangkau dalam waktu satu hari. Selain itu peningkatan taraf hidup masyarakat Korea dalam sepuluh tahun terakhir pun menjadi faktor penunjang pertumbuhan turis domestik.

Secara institusi, Pemerintah Korea  mengatur industri pariwisata melalui Kementrian Pariwisata dan Korean Tourism Organization (KTO). Sejarah KTO sendiri berasal dari International Tourism Corporation (ITC) yang didirikan di tahun 1962. Pada 1982 ITC berubah nama menjadi Korea National Tourism Corporation yang kemudian berubah lagi menjadi KTO di tahun 1996.

KTO ini memiliki empat fungsi utama, melakukan promosi untuk menarik turis, melakukan riset dan mengembangkan teknologi untuk mengembangkan industri pariwisata sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Korea, bekerjasama dengan pemerintah lokal, serta memberikan konsultasi dan pengembangan resort. Sekadar catatan, promosi menarik turis bukan hanya untuk menarik turis asing, tetapi juga turis domestik.

Keberhasilan Korea ini juga didukung oleh Korean Wave (hallju). Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh jurnalis di Beijing yang terkejut akan popularitas Korea yang meningkat drastis dalam waktu singkat pascakrisis moneter 1997-1999. Karena Korea memperkirakan pemulihan sektor manufaktur akan memakan waktu yang lama pascakrisis, Korea memperkenalkan “ekspor kebudayaan” berbasiskan daya tambah ke seluruh dunia, teruatam ke Cina, Jepang dan Asia Tenggara. Korean Wave diperkirakan dimulai setelah berhasilnya film Winter Sonata di Jepang dan diikuti dengan sukses di beberapa negara Asia  laiinnya. Pada 2006, program Korea di stasiun TV Korea mencapai lebih dari setengah jumlah program film asing. Beberapa stasiun TV di Hong Kong, misalnya TVB-J2, mendedikasikan dirinya untuk program Korea saja, sementara ATV menayangkan drama Korea lima kali seminggu. Artis-artis dan musisi Korea kini juga mencapai popularitas yang luar biasa di Asia Timur sampai melahirkan genre baru yang populer dengan nama K-Pop (Korean Pop).

Menjamurnya drama Korea, lagu-lagu Korea, ataupun artis Korea saat ini merupakan buah hasil dari Korean Wave. TV, film dan musik dipakai oleh Korea Creative Content agency untuk meningkatkan daya tarik Negeri Ginseng ini.

Di saat bersamaan, game Korea juga berkembang pesat. Ragnarok, Later, Mu dan Laghaim merupakan online game yang pertama menyerbu Asia Tenggara. Online game ini semakin menambah kegilaan akan Korea. Bukan hanya itu, mereka pun menyerbu dengan produk kosmetik. Dalam waktu sekejap, produk kosmetik Korea membanjiri pasar, terutama pasar Asia, misalnya Etude, The Faceshop, dan skinfood.

Alhasil, saat ini tiga dari empat turis mancanegara Korea berasal dari negara tetangga Cina, Jepang, Hongkong, Taiwan dan sisanya kebanyakan berasal dari Asia Tenggara.

Bukan itu saja, kesuksesan Korea menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 membuat Korea semakin populer di dunia International sekaligus menarik minat kunjungan ke negeri ini.

Setali tiga uang dengan Korea, Taiwan juga mengalami pertumbuhan pariwisata yang sangat pesat sejak tahun 2000. Pada tahun itu, jumlah wisatawan Taiwan hanya 2,6 juta, dimana 2,3 jutanya adalah wisatawan asing. Jumlah ini meningkat dua kali lipat menjadi 5,6 juta, dengan 3,2 juta adalah wisatawan asing di tahun 2010. Saat ini, pariwisata telah berkontribusi 4,52 persen dari PDB Taiwan.

Pertumbuhan pariwisata Taiwan didukung secara komprehensif oleh semua kementrian. Di level pemerintah pusat, sistem administrasi pariwisata terdiri dari Tourism Section dan Tourism Bureau di bawah Kementrian Transportasi dan Komunikasi. Di level kota, pemerintah daerah memiliki unit sendiri yang bertanggung jawab terhadap pemasaran dan promosi pariwisatanya. Setiap daerah di Taiwan memiliki positioning  masing-masing dengan menonjolkan keunikannya. Dengan demikian, setiap daerah itu tidak harus bersaing satu dengan yang lainnya untuk menarik wisatawan, melainkan wisatawan harus berkeliling seluruh Taiwan untuk merasakan seluruh pengalaman tersebut.

Tahun 2006, Kabinet Taiwan mendirikan Tourism Development and Promotion Committee yang bertujuan mengintegrasikan pengembangan dan promosi pariwisata secara efektif. Komite ini diketuai oleh Dirjen Tourism Bureau dan anggotanya adalah deputi menteri, operator pariwisata dan akademisi.

Daerah tujuan wisata Taiwan sendiri dikuasai oleh sejumlah kementrian. National Park berada di bawah Kementrian Pembangunan dan Perencanaan Dalam Negeri, ladang pertanian dan hutan pariwisata di bawah Council of Agriculture, reservoir, daerah wisata dan daerah rekreasi di bawah Kementrian Ekonomi. Semua kementrian ini bekerjasama secara erat untuk mengembangkan pariwisata Taiwan.

Tahun 2002, Taiwan mengeluarkan National Development Plan dengan tujuan melipatduakan jumlah turis. Hebatny blue print ini dipublikasi dengan jelas di website http://admin.taiwan.net.twdan laporan realisasinya dipublikasi secara transparan kepada public di website tersebut.

Setiap tahun, mereka mengeluarkan Annual Tourism Policy yang berisikan agenda yang harus dilaksanakan untuk mendukung pertumbuhan pariwisata Taiwan. Agenda ini didefenisikan dengan jelas dan dipublikasi secara resmi. Untuk tahun 2006 misalnya, agenda kerjanya adalah meluncurkan Taiwan, Touch Your Heart sebagai slogan pemasaran international, membantu pendaftaran losmen homestay secara resmi, dan membangun visitor centre di tempat peristirahatan jalan tol dan kereta api cepat. Atau untuk 2011 kemarin agenda kerjanya adalah mempromosikan wisata kesehatan, pengembangan Green Island dan Little Liuqiu sebagai percontohan ekoturisme.

Kesimpulannya, pertumbuhan jumlah turis yang fantastis di Korea dan Taiwan bukan terjadi dengan mengandalkan faktor daya tarik alam semata. Namun, mereka membangun pariwisata dengan kerja keras, rancangan strategi dan implementasi yang sistematis. Indonesia bagaimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: