Intelek minus Intelektualitas

Habis membaca status facebook salah seorang teman yang menyesalkan Wapres Boediono datang ke UGM dalam rangka kunjungan tapi tidak ada mahasisiwa yang demo. saya lansung mikir, emang harus githu..? emang harus ya kalau pejabat itu datang, apalagi buat Pak Boed ini juga datang ke rumah sendiri, harus disambut dengan demo dan unjuk rasa..? harus ya..?

Malahan, kebanyakan saya lihat demonstrasi dan unjuk rasa yang terjadi belakangan ini minim intelektualitas. Misalnya Presiden mengadakan kunjungan dan peresmian penggunaan bibit unggul jenis baru di suatu daerah, terus ada aja mahasiswa yang ‘menyambut’ dengan tuntutan-tuntutan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanian.

Yang paling aneh menurut saya itu unjuk rasa yang menuntut Presiden dan Wakil Presiden mundur. OK, saya jelaskan dulu, saya sama sekali bukan front pembela presiden atau sejenisnya. Tapi menuntut presiden mundur apa itu menyelesaikan masalah? dan yang paling penting, memangnya mereka punya calon yang lebih baik?

Tentu aja ga ada salahnya menyampaikan aspirasi, unjuk rasa, demonstrasi dan sejenisnya itu, tapi ya kan harus dibarengi dengan cara dan argumen yang benar. Punya dasar pemikiran dan fakta yang jelas. bukan asal turun ke jalan. belum lagi ada yang demonya suka berbuat kerusuhan dan aksi anarkis sampai yang merusak atau membakar gedung-gedung milik mereka sendiri. Yang rugi siapa? ya mereka sendiri, uang mereka yang harusnya dimanfaatkan buat keperluan lain, malah digunakan untuk memperbaiki kerusakan yang mereka ciptakan itu.

Setelah itu, kalau nanti perbaikan udah dijalankan, dan penggunaan anggaran dianggap tidak transparan, mereka bakal protes lagi dan merusak lagi. jadilah lingkaran setan yang tidak akan ada habisnya. dan mereka tidak pernah sadar, kalo mereka ikut ambil andil dalam menciptakan apa yang mereka sebut dnegan korupsi, atau sekekdar pemborosan itu.

intinya, saya tidak menolak unjuk rasa, tapi mbok ya dibarengi sama penggunaan otak dan pemikiran yang sudah dianugerahkan Tuhan ke kita. Sayang aja kan kita udah dikasih ga dipake? Udah gitu ngakunya mahasiswa lagi. tapi kelakuan ga jauh beda, malah lebih buruk dari ibu-ibu miskin kalau lagi demo, orang-orang yang mungkin justru ga pernah mengenyam pendidikan sama sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: