Apa Istimewanya Ujian Sih?

Setidaknya itulah yang saya rasakan selama dua belas tahun di bangku sekolah. Ujian buat saya hampir tidak berbeda dengan hari-hari lain saya datang ke sekolah. Datang sebelum waktunya, bel berbunyi masuk ke kelas dan mulai deh ujian. (note: ini ga berlaku buat ujian di perguruan tinggi). Boleh percaya boleh tidak, pas dulu Ujian Nasional (UN) dan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) saya sama sekali tidak mengalami deg degan yang spesial, yang saya rasakan tidak jauh berbeda dengan ujian harian di sekolah. 

Ok lah, mungkin memang butuh sedikit perhatian lebih, tapi sebenarnya kalau setiap hari kita berangkat ke sekolah, saya yakin tidak akan ada perbedaannya.

Persiapan Jauh Sebelum Hari-H

Belajar, tidak ada lagi penjelasan yang harus dipaparkan di bagian ini. Belajar untuk ujian apapun intinya sama, belajar dari jauh-jauh hari. Belajar itu bukan buat ujian, tapi karena memang kita membutuhkan ilmu dan pengetahuan tersebut.

Mungkin sudah sering di bahas, dan membosankan buat yang membacanya, tapi memang ada perbedaan yang sangat besar di antara keduanya. Saat kita belajar buat ujian saja, selain nanti hasilnya hanya akan bertahan sampai ujian selesai, kita belajar juga akan penuh beban. Beban kita harus menguasai ini-ini supaya bisa lulus. Kita haus bisa menyelesaikan sekian soal supaya lulus, dan segala macam pikiran umum tentang ujian lainnya. Berbeda saat kita menjadikan belajar adalah rutinitas dan kebutuhan, tidak ada beban perasaan dan rasa enggan karena memang itulah yang kita lakoni setiap harinya.

Setiap orang punya metode belajar sendiri, punya waktu belajar sendiri. Dan itu benar-benar individual, cara belajar saya mungkin tidak akan cocok dengan orang lain, bahkan mungkin saudara saya sendiri. Tapi satu yang saya yakini, belajar seminggu sebelum ujian (apalagi malam sebelum ujian) adalah satu hal kesia-siaan belaka. Hasilnya akan sangat jauh dari yang kita harapkan, bahkan meskipun kita telah menurunkan standar harapan.

Kalau saya sendiri, saya harus selalu memperhatikan penjelasan guru di kelas, dan hampir tidak pernah membuat catatan (makanya selalu kelabakan setiap kali pemeriksaan kelengkapan catatan). Saya belajar dengan memperhatikan setiap gerakan guru, dan saat ujian biasanya saya menggali ingatan dengan mengingat lagi saat-saat Bapak/ibu guru menjelaskan materi tersebut, termasuk di bagian mana dari whiteboard beliau menulis, mimik dan gesture yang ditunjukkannya. Tentu saja dengan tetap belajar kembali.

Saya hampir tidak pernah belajar sore/malam, kecuali bila ada tugas kelompok. Saya lebih memilih dini hari sebagai waktu belajar. Biasanya bangun jam 2 pagi dan mengulang pelajaran di sekolah, mempersiapkan materi untuk keesokan harinya, atau mengerjakan tugas. Tapi sejujurnya saya lebih banyak mengerjakan PR di sekolah sebelum dikumpulkan, tapi tetap dikerjakan sendiri bukan hasil menyontek. Melengkapi catatan juga sangat membantu dalam memahami materi pelajaran.

H-7 sampai H-1

Buat sebagian besar orang, saat menjalani ujian besar, semisal Ulangan Umum Bersama, Ujian Akhir Semester, Ujian Nasional, ataupun Ujian Masuk Perguruan Tinggi (termasuk SNMPTN), minggu terakhir sebelum ujian adalah saatnya belajar lebih dari biasanya. Kalau sebelumnya belajar 3 jam sehari itu berasa sudah lebih dari cukup, saat itu tidur 3 jam sehari mungkin sudah dirasa terlalu banyak. Dan seperti itulah.

Saya, sejak awal masuk SD sampai ujian terakhir di SPMB (sekarang SNMPTN), seperti memantangkan diri belajar di minggu terakhir sebelum ujian, apalagi di hari H ujian. Selain buat saya kesia-siaan belaka karena tidak akan nempel di otak disebabkan panik yang ada malah ilmu yang sudah melekat bisa ketindihan rasa panic.

Sekarang lucu mengingat rasanya dulu pernah ditegur oleh tante tetangga rumah, karena saya datang ke rumahnya untuk bermain di hari ujian kenaikan kelas. Bukan ditegur keras, tapi heran kenapa saya tidak belajar padahal anaknya yang teman sekelas saya sedang berkutat dengan buku catatannya. Tapi ya itu, karena sudah belajar dari jauh-jauh hari, jadi saya santai aja.

Persiapkan juga segala kebutuhan ujian di periode ini. Saat dulu ujian barang-barang yang wajib saya siapkan

  1. Minimal tiga batang pensil yang diraut kedua ujungnya. Dengan persiapan seperti ini kita seolah memiliki enam batang pensil dan tidak harus membuang beberapa detik untuk memungut pensil yang jatuh atau beberapa menit untuk meraut kembali pensil yang patah.
  2. Rautan pensil. Meskipun membawa tiga atau empat pensil, saya tetap mempersiapkan rautannya sekalian. Tidak ada salahnya bersiap-siap kan? Toh tidak berat dan memakan tempat
  3. Tiga batang pena. Logikanya sama dengan pensil. Selain memungut pensil ‘membuang’ waktu, pensil/ pena yang jatuh itu bisa memecah konsentrasi.
  4. Minimal dua penghapus pensil dan tipe-Ex. Meskipun sebenarnya tipe-ex tidak diperbolehkan dalam ujian, tapi saya selalu mempersiapkannya.
  5. Penggaris, busur, jangka dan segala peralatan matematika dan berhitung lainnya.
  6. Dan keperluan lainnya, yang semuanya disimpan dalam satu kantong/ tempat peralatan tulis khusus.

Dan semuanya sudah harus berada di dalam tas beberapa hari sebelum ujian dalam kondisi siap pakai.

Dan megecek lokasi serta ruang ujian juga dilakukan pada masa ini. Jangan sampai kita baru panic mencari tempat ujian pagi hari sebelum ujian dimulai, bahkan meskipun ujian dilakukan di sekolah kita sendiri.

Malam Sebelum Ujian

Lakukan hal yang disenangi, dan jangan tidur terlalu malam.

Biasanya malam-malam saat ujian saya hampir selalu hang-out bersama teman-teman, sekedar mencari angin malam, makan bareng dan melakukan hal-hal ringan lainnya, membebaskan otak sama sekali dari pikiran bahwa besok adalah ujian besar yang akan menentukan masa depan.

Nonton tipi juga ga masalah, asal jangan film horror yang mungkin akan berakibat pada tidur nantinya. Tontonan ringan dan menghibur akan lebih baik.

Dan setelah melakukan semuanya, segera tidur, akan lebih baik kalau naik ke tempat tidur 30 menit atau satu jam sebelum waktu biasa tidur. Istirahat sedikit lebih lama akan memberikan rasa tenang yang lebih.

Dan tentunya tidak lupa mengecek kembali alat tulis yang sudah dipersiapkan sebelumnya, sekedar berjaga-jaga.

Hari H

Bangun lebih pagi dari waktu biasanya akan lebih baik, dengan catatan sebelumnya juga tidur lebih awal. Intinya tubuh tidak kurang waktu tidur/ istirahat.

Bangun lebih awal bukan untuk menyempatkan diri membuka buku kembali, tapi supaya tidak tergesa-gesa yang bisa menyebabkan kekacauan di pagi hari ujian.

Mandi lebih awal, memakai pakaian yang sudag dicuci dan disetrika rapi, meski tidak signifikan tapi cukup memberikan efek positif di pagi hari pada psikologis.

Sarapan yang cukup. selain mendapatkan cadangan energy yang cukup, juga untuk menghindarkan rasa lapar ataupun sakit saat ujian yang bisa memecahkan konsentrasi atau malah menggagalkan ujian sama sekali.

Berangkat ke lokasi ujian lebih awal, minimal 30 menit sebelum tanda masuk kita sudah berada di lokasi ujian. Kalau saya dulu malah satu jam sebelum ujian sudah stand by di dekat ruang ujian dan mengobrol ringan dengan teman-teman.

Di Dalam Ruang Ujian

  1. Masuk secara teratur setelah dipersilahkan
  2. Dengarkan setiap instruksi pengawas ujian dengan seksama, bahkan meskipun kalimat itu sudah diulang-ulang setiap kali mau ujian. Karena siapa tahu ada hal baru dan penting yang akan disampaikan.
  3. Berdo’a sebelum membuka lembaran jawaban dan soal yang diberikan.
  4. DAHULUKAN MENGISI IDENTITAS UJIAN. Hal yang sering dianggap sepele karena merasa lebih penting mengerjakan soal segera karena asumsinya waktu akan lebih banyak. Tapi apa artinya kita bisa menyelesaikan seluruh soal dengan baik jika nama kita tidak diketahui panitia pemeriksa ujian?

Saat Ujian

  1. Buka lembar jawaban dan soal setelah dipersilahkan
  2. Dahulukan mengisi identitas diri
  3. WAJIB MEMBACA INSTRUKSI SOAL, bahkan meskipun setiap ujian instruksinya selalu sama. Karena kita tidak pernah tahu apakah bakal ada instruksi khusus di soal tersebut. DAN DENGARKAN PENJELASAN PENGAWAS UJIAN.
  4. Lakukan skimming terhadap soal-soal yang ada secara keseluruhan dan cepat, sekaligus menandai soal-soal yang perlu mendapatkan perhatian khusus.
  5. Yang berikut ini merupakan kebiasaan saya pribadi saya saja, tidak harus diterapkan. Saya selalu mengerjakan soal dari yang pertama, sampai akhirnya menemukan masalah berat. Masalah berat akan saya tinggalkan dan saya lalu akan memulainya dari yang paling akhir. Mentok lagi maka pindah lagi ke soal setelah yang sebelumnya ditinggalkan. Begitu terus sampai bertemu di tengah. Setelahnya baru akan dilihat lagi dari awal.
  6. saat bertemu soal yang susah dan membutuhkan waktu untuk memikirkan cara penyelesaiannya, jangan berhenti di sana. Jangan sampai waktu habis untuk mengerjakan satu soal yang sulit dan mengorbankan sepuluh soal yang gampang. Lagi pula sering kita dapat ilham cara penyelesaian soal tersebut justru di soal yang lain atau di soal setelahnya.
  7. Setelah selesai semua, dan waktu masih ada, beristirahatlah sekitar lima menit di tempat duduk.
  8. Periksa lagi jawaban dan cocokkan dengan soal kembali.
  9. Setelah semua selesai diperiksa, dan sudah yakin benar, tetap di tempat duduk. Duduk manis saja, atau sekali-sekali periksa jawaban kembali. Pokoknya jangan keluar sebelum waktunya habis.

Buat saya hanya ada dua saat orang keluar terlebih dahulu saat ujian. Dia belum siap dengan ujian setelahnya, atau nanti dia akan menyesal keluar terlebih dahulu tanpa memeriksa kembali pekerjaannya.

  1. Akhiri dengan memanjatkan doa dan terima kasih kepada Tuhan.
  2. Keluar ruangan dengan santai.

Setelah Ujian

Disini memang sangat individual sekali. Ada yang setelah ujian sukanya mencocokkan jawaban dengan guru atau teman-teman. Logikanya, ujian masih fresh dan kalau ada yang dia keliru/ lupakan, bisa lansung dibenarkan. Tapi ada juga yang mengharamkan pembahasan ujian setelah keluar ruangan. Logikanya juga bisa diterima, dia bisa mati panic dan jantungan karena merasa hasilnya akan sangat buruk. Itu terserah masing-masing

INTINYA…

Dari semuanya, saya menyimpulkan satu saja, persiapkan diri dengan matang, cermat dan dari jauh-jauh hari. Kalau itu dilakukan, ujian besar tidak akan ada bedanya dengan datang ke sekolah setiap harinya.

Sukses dan selamat ujian.

NB: Ada yang nanya hasilnya gimana? Dua belas tahun sekolah saya selalu berada di peringkat teratas di urutan pemuncak kelas (memang bangga). Saya lulus SD, SMP, dan SMA dengan predikat 10 besar di kabupaten/kota. Dan saya sukses melewati SPMB dan diterima di Fakultas Farmasi universitas tertua dan terbesar di Indonesia, Universitas Gadjah Mada.

Rasanya cukup baik untuk dijadikan bukti kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: