Cinta dalam Selembar Daun

Kenapa daun mati dan berguguran, terutama di musim kering?

Habis nemu sebuah tulisan ringan, pernah ga kita bertanya kenapa daun itu gugur dan mati? Jawaban pertama dan mungkin yang hampir semua orang berikan adalah karena mungkin daunnya sudah tua, jadi memang sudah saatnya dia gugur. Jawaban klasik yang ga butuh sekolah untuk memaparkannya. Atau kalau konteksnya saat musim kemarau, seperti yang di ajarkan saat masih SD, pohon menggugurkan daunnya untuk mengurangi penguapan.

Pernah terpikir bahwa gugurnya daun adalah bentuk pengorbanan daun untuk inang (pohon) -nya dan juga semesta kehidupan? Sejujurnya saya sendiri tidak pernah berpikir jauh sampai ke sana. Kesombongan menganggap kesibukan sehari-hari saja sudah sangat menyiksa tanpa harus ditambahi dengan pemikiran tidak penting  dan konyol seperti itu.

Semasa hidup dan segar, daun menjadi komponen penting penunjang kehidupan, baik pohon dan juga makhluk hidup lainnya. Bagi pohonnya sendiri jelas, tempat mengolah unsur hara menjadi makanan untuk tanamannya adalah di daun, atau yang secara umum dikenal dengan nama fotosintesis. Selain zat makanan, hasil fotosintesis juga berupa oksigen yang dilepaskan ke alam bebas dan dapat digunakan oleh makhluk hidup lainnya untuk bernafas. Dan peristiwa ini terjadi berulang-ulang, terus-menerus setiap harinya. setiap hari bekerja tanpa imbalan, demi kelansungan hidup baik dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya.

Saat musim gugur/kemarau, daun menggugurkan dirinya dengan niat mulia, mengurangi penguapan berlebih sehingga pohon atau inangnya tetap dapat hidup. daun yang gugur itu kemudian jatuh ke tanah, sekaligus juga melindungi tanah dari kekeringan akibat penguapan berlebih. setelah beberapa waktu, daun itu akan membusuk dan akhirnya menjadi unsur hara yang nantinya juga untuk menunjang hidup tumbuhan/ inangnya lagi.

Lihat, betapa kompletnya perjuangan sang daun. Daur hidup sederhana yang selama ini hanya menjadi hafalan sebelum ujian buat anak-anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar. Tanpa menyadari, bahwa dari awal dia berbentuk kuncup sampai hancur menjadi tanah, ada pengorbanan untuk kelansungan hidup inangnya. Daun (pohon) yang diciptakan tanpa kemampuan untuk berbuat di luar yang sudah digariskan, rela bahkan mengorbankan dirinya asalkan yang lain tetap terus hidup. Sangat memalukan kalau kita sebagai makhluk yang dikaruniai kemampuan berpikir, bergerak sesuai kehendak hati, malah berbuat yang pada akhirnya mengancam keberadaan alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: