Dilema Menteri Kondom

Polemik rencana Menteri Kesehatan RI yang Baru Nafsiah Mboi untuk membagikan kondom secara gratis di tempat-tempat tertentu, utamanya di pusat kegiatan seksual komersial, memang wajar menuai kontroversi. Namun seharusnya kita semua juga ikut berpikir jernih dan tidak semata-mata menyalahkan keputusan yang beliau ambil.

Pertama, saya tentunya bukan orang yang mendukung freesex, namun hanya berusaha untuk tidak membabi buta menimpakan kesalahan ke satu orang. Berusaha memahami jalan pikiran beliau juga.

Dilematis memang menjadi orang-orang yg bergerak di bidang kesehatan, LSM kesehatan apalagi menteri kesehatan. Kita semua tentunya juga sepakat, bahwa tidak ada orang berpendidikan (bahkan mungkin juga yang tidak) yang setuju dengan keberadaan prostitusi, baik legal maupun tidak. Namun apa yang dapat kita lakukan untuk memberantasnya?

Jangankan posisi Menteri Kesehatan yang tidak punya kewenangan sama sekali untuk mengurusi hal semacam itu, Menteri Agama atau Menteri Sosial saja sampai sekarang tidak pernah berhasil menguranginya, apalagi meniadakan secara keseluruhan. Melegalkan atau menyediakan spot khusus untuk para pekerja ‘industri’ ini jelas akan selalu ditentang, meskipun di satu sisi akan membuat orang harus berpikir dua kali kalau sampai terlihat memasuki red district semacam itu. Tapi memburu mereka hanya akan membuat mereka menghilang dari permukaan, dan semakin membesar di tempat-tempat yang tidak terdeteksi. Dan biasanya yang tidak terlihat inilah yang justru lebih berbahaya.

Di sinilah dilemanya menjadi Menteri Kesehatan seperti Nafsiah Mboi. Bagaimanapun tugasnya adalah memastikan warganya tetap sehat, atau terbebas dari penyakit-penyakit terutama yang berbahaya. Dan hampir semua penyakit yang berhubungan dengan kelamin, seperti HIV/AIDS, kanker serviks, sifilis dan lainnya termasuk kategori sangat berbahaya dan hampir semuanya berujung kematian dengan penderitaan panjang mendahuluinya. Nah, sementara pihak-pihak terkait, kita secara bersama-sama, bisa memberantas penyebab dan akar masalahnya, tidak ada salahnya beliau memutuskan mengambil jalan pendek terlebih dahulu.

Tidak menyelesaikan masalah freesex dan prostitusi memang, tapi setidaknya akan membantu penurunan ancaman pengidap penyakit-penyakit seksual. Setidaknya satu masalah bisa agak tertangani. Dan bukankah itu lebih baik dari tidak ada satupun masalah yang bisa diselelesaikan? Lagi pula saya pernah mendapat ungkapan bagus saat masih aktif di lembaga mahasiswa, “Kesuksesan-kesuksesan jangka pendek akan membantu pencapaian sukses jangka panjang.”

Dan menurut saya pribadi, tidak ada korelasi lansung antara kegiatan membagi-bagikan kondom dengan statistik seputar seks bebas atau seks diluar nikah ataupun pelegalan hubungan tanpa ikatan perkawinan (zina). Dengan ataupun tanpa kondom, bila seseorang sudah berniat melakukan hubungan seksual, maka mereka akan melakukannya. Dan bila alasannya adalah takut hamil atau sebagainya (bila dihubungkan dengan seks di luar nikah, maka hamil adalah satu-satunya penghubung), maka kondom juga bukan barang yang mahal atau susah didapatkan. Makanya, buat saya itu tidak berhubungan. Kondom berhubungan dengan aktivitas seksual iya, tapi tidak meningkatkan atau menurunkan angka kegiatan seksualnya secara lansung.

Sekali lagi, saya bukan pendukung free sex, sebagaimana saya yakin Bu Menteri juga tidak. Tulisan ini hanyalah usaha saya untuk mencoba memahami pemikiran beliau. Tugasnya yang diamanatkan Presiden (dan juga kita sebagai rakyat) adalah memastikan warganya tetap sehat. Masalah lainnya bersama-sama juga kita menyelesaikannya.

ps: Kata Menteri kondom saya gunakan karena saat itu kebanyakan media menggunakan istilah tersebut untuk menyudutkan Menkes Mboi, tapi bukan berarti saya ikut memojokkan beliau

tulisan saya yang lain tentang dilematisnya menutup lokalisasi

6 comments

  1. Sedikit koreksi, untuk nama Menkes adalah Nafsiah Mboi.

    Sedikit dilema bagi petugas kesehatan tentang kondomisasi. Asalkan didistribusikan ke objek yang tepat, sih, ga masalah. Bukan ke anak-anak😦 sama saja menghalalkan hubungan di luar nikah..

    • alfathirahmat

      Ooh iya, thanks koreksinya, saya aja ga sadar kalau saya salah menulis nama beliau🙂

      Saya rasa alasan kemenkes membidik perguruan tinggi karena tingginya angka hubungan seksual di luar nikah pada remaja, dan mereka kembali ke situasi seperti di atas. Dengan kondisi seperti saat ini, kita belum bisa menekan angka itu.
      Kemenkes terus melakukan sosialisai, termasuk banyaknya pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah, tetapi rasanya tidak membantu banyak.
      Apakah dengan tidak membagi-bagikan kondom itu akan menurunkan statistik tersebut? Bahkan agama ataupun norma dan moral pun tidak bisa menurunkan angka hubungan seks pra-nikah tersebut. Makanya kemenkes melakukan tindakan preventif terhadap masalah lain yang akan timbul, yaitu penyakit yang ditimbulkan karena hubungan di luar nikah ini.

      Memang masalah sex before marriage memang tidak akan terselesaikan dengan pembagian kondom gratis, tidak akan menurunkan angka seks bebas, tetapi setidaknya menekan pertumbuhan angka penderita penyakit seksual, sementara kita mencari penyelesaian dari akar semua masalah itu. Kemenkes hanya melakukan apa yang bisa mereka lakukan, kalau kita mau protes tentang sex before marriage, maka kementrian agama, pendidikan, atau mungkin juga kementrian sosial lebih tepat.menerima keluhan kita

      *Maafkan kalau ada yang salah🙂

      • siiip… perlu adanya kolaborasi antara kementrian agama dan kementrian kesehatan😉

        saya sendiri sebagai anak kesehatan, kurang setuju atas tindakan Kemenkes untuk membagi-bagikan kondom kepada pelajar..🙂

        btw, gimana kabarnya, Rahmat? lagi sibuk apa sekarang?🙂

  2. yang bikin orang2 ngamuk adalah itu kondom dibagi2 di gerbang kampus plus ada bis dengan gambar jupe segede apaan tauk yang parkir di kampus. Wajar aja sih yang punya kampus sewot.,.

    PS :
    nggak kok mat, ini tulisan gak liberal-liberal amat
    at least di mata gw

    • alfathirahmat

      eh iya ya? di Jogja berarti di bundaran UGM..?
      Ntar lewat sana ah, lumayan kan kalo dapat beberapa kotak, sukur-sukur beberapa pack

      Uuum, kalo tentang teknis pembagiannya yang kayak gitu gue ga ada ide ya, no comment-lah.. Tapi intinya saya cuma tidak suka dengan beberapa pihak yang seolah menuduh pemerintah dalam hal ini Menkes melegalkan sex before marriage atau zina, padahal nanti kalau LSM mengungkap banyaknya penderita penyakit akibat hubungan seksual, mereka juga balik menyalahkan pemerintah lagi..

      Kecuali kalau bisa memberikan solusi, entah itu untuk mengurangi angka seks bebas, ataupun penularan penyakit2 seksual tersebut. Solusi yang applicable bukan sekedar teori

  3. Biasa saja menurut saya. Bu Menteri lebih memilih focus pada hasil yang baik ketimbang pada efek buruknya. Legalisasi freesex itu kan cuma efek samping, itupun sebatas tudingan saja. Apa pengaruhnya terhadap kebijakan itu? Hasil lebih penting ketimbang efek samping bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: