Sport(ifitas) China

Keseriusan China memperhatikan olahraga dan kehebatan atlet-atlet China mungkin tidak perlu diragukan lagi. Hampir semua olahraga mereka punya yang terbaik, kecuali mungkin di sepakbola. Bulutangkis mungkin salah satu yang paling terkenal dari China.

Pencarian bibit-bibit atlet baru dan pembinaan terhadap mereka adalah bukti keseriusan pemerintah China. Para pencari bakat rela menempuh jarak ribuan kilometer ke desa-desa paling terpencil di China untuk menemukan bakat baru. Latihan mereka dilakukan secara terpusat dan dengan program yang terjadwal ketat. Hasilnya bisa dlihat jelas. Di bulutangkis misalnya, dalam setiap sektor minimal ada wakil mereka di tiga besar. Dan tak jarang tiga besar semuanya diisi wakil China. Di tunggal Putri misalnya, dari data BWF 31 Juli 2012, empat pebulutangkis putri terbaik semuanya wakil China.

Namun besarnya nama mereka kadang tidak diiringi dengan semangat sportifitas yang seharusnya dijunjung tinggi setiap olahragawan. Perburuan medali dan peringkat, dan mungkin juga kecintaan tanah air yang berlebihan, membuat atlet-atlet China sering terjebak dalam pengaturan hasil pertandingan. Meskipun sebagian tidak terbukti, namun seringnya kejadian yang sama berulang membuat mau tidak mau kecurigaan akan tetap ada.

Tahun 1997 misalnya, pasangan pebulutangkis China yang saat itu menduduki peringkat satu dunia, Ge Fei/Gu Jun secara mengejutkan kalah dari junior mereka yang berstatus non unggulan di World Grand Prix 1997. Mengejutkan karena, sepanjang tahun itu pasangan Fei/ Jun sama sekali tidak pernah terkalahkan, dan kini dikalahkan pemain non-unggulan. Diduga saat itu Fei/Jun sengaja mengalah agar lawannya saat itu, Qian Hong/Liu Lu juga bisa melaju ke babak selanjutnya. Sebab saat itu Hong/ Lu sedang berebut tiket terakhir dengan pasangan Indonesia. Kemenangan yang diluar dugaan itu akhirnya memang mengantarkan kedua pasangan China itu ke babak berikutnya.

Musuh bebuyutan Susi Susanti, Ye Zhao Ying juga pernah diduga mengalah kepada rekan senegaranya di semifinal Olimpiade Sydney, karena satu tempat final sudah diisi pemain Denmark Camilla Martin dan rekor pertemuan Zhaoying dengannya tidak begitu baik, berbeda dengan Gong Zichao. Dan hasilnya memang, Gong akhirnya mempersembahkan medali emas buat China. Di Athena 2004 malah lebih parah lagi, salah satu atletnya akhirnya pindah ke Hongkong gara-gara sakit hati saat disuruh mengalah oleh pelatihnya saat melawan rekan senegaranya.

Atau saat Super Lin yang dikalahkan Chen Jin di China Master 2011 dan kemudian mengaku sakit dan WO saat kembali menghadapi Chen Jin di Singapura Open 2011 serta Asian Championship 2012. Diduga Lin Dan sengaja melakukannya agar peringkat Chen Jin naik dan bisa berpartisipasi dalam olimpiade. 

Sebuah situs online malah pernah melansir, bahwa dari 99 pertemuan sesama pemain China di event-event besar sepanjang 2011, 20 diantaranya berakhir dengan WO. terlalu banyak untuk disebut sebagai kebetulan.

Dan yang kemarin berlansung di penyisihan grup London 2012. Pasangan nomor satu dunia Wang Xiaoli/Yu Yang mengalah dari pemain Korea Selatan. Hal ini ‘terpaksa’ dilakukan karena pasangan China lainnya secara tak terduga kalah dari lawannya sehingga menempati runner-up grup. Dengan status Juara grup A dan Runner-up grup D, mereka berpotensi bertemu di semifinal, padahal inginnya bertemu di final. Maka mengalahlah pasangan Wang Xiaoli/Yu Yang. Toh, mereka sama-sama tetap dapat lanjut ke perempat final.

Sayangnya buntutnya sedikit panjang, calon lawan mereka di perempat final, pasangan Indonesia dan Korea Selatan, sama-sama berusaha mengalah juga agar terhindar dari juara grup dan bertemu Wang/ Yu. Wasit sampai harus mengeluarkan kartu hitam dan mendiskualifikasi kedua psangan sampai akhirnya dicabut karena lobi dari masing-masing official.

Dan kasus-kasus di atas hanyalah sedikit dari banyak kecurigaan noda lain yang dicorengkan Tim China di lapangan. Kejamnya lapangan memang sering tidak terduga, dan apapun bisa saja terjadi. Namun saat sebuah ketidakterdugaan yang terlalu menguntungkan, seringkali berulang, tentunya harus ada sedikit kecurigaan untuk memulai penulusuran.

Tulisan ini tentunya bukan untuk memojokkan China, sebab bagaimanapun juga Indonesia juga ikut mencorengkan lumpur di kening sendiri. Olahraga kebanggaan bangsa malah jadi bumerang dan menjadikan Indonesia bahan olok-olok negara lain.

Kurangnya pembinaan dari induk olahraga bisa jadi merupakan penyebab utama dari kasus-kasus yang terjadi. Saya tidak terlalu tahu seperti apa di China, tapi di Indonesia, yang utama ditekankan adalah perolehan medali. Setiap induk olahraga ditargetkan memperoleh medali dalam jumlah tertentu di setiap eventnya. Keinginan untuk memperoleh medali inilah yang kadang membuat sebagian orang lupa akan tujuan utama dari pertandingan olahraga. 

Prinsip utama dari olahraga (sport) adalah sportifitas dan fair play. Tanpa itu, maka olahraga tidak akan lebih dari sekedar adu kekuatan. Tidak berbeda dengan kelakuan masyarakat tidak beradab jaman dulu yang bergembira saat melihat tontonan saling bunuh antar tawanan  atau budak-budak mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: