Kilas Tenis 2012

Grand Slam 2012 diwarnai banyak kejutan-kejutan. Mulai dari cederanya beberapa favorit dan unggulan juara, rencana mundurnya beberapa petenis besar, sampai munculnya pemain-pemain non unggulan yang mampu mengandaskan beberapa unggulan teratas.

Persaingan di musim 2012 juga terbilang jauh lebih terasa dibandingkan tahun 2011 meskipun ini bukan berarti di 2011 kurang kompetitif. Tapi kita lihat saja misalnya di sektor putra, setiap kali Novak Djokovic ambil bagian di kompetisi, hampir selalu dia yang akhirnya keluar sebagai juara. Sampai perhelatan Grand Slam terakhir di 2011 yaitu US Open, Djokovic hanya kalah 2 kali dari 64 pertandingan yang diikutinya. Meski cukup disayangkan salah satunya justru terjadi di Grand Slam France Open. Tapi itu semua cukup untuk menempatkannya sebagai penguasa 2011.

Tapi hal yang sama tidak bisa dia lanjutkan di tahun 2012. Trofi Grand Slam nya harus berhenti sementara hanya sampai dia memenangi rekor duel terlama dalam sejarah Australia Open bersama Rafael Nadal. Namun duel berikutnya di Rolland Garros (France Open), giliran Nadal yang keluar jadi pemenang dan mencatatkan rekor peraih gelar Rolland Garros terbanyak dan menasbihkan diri sebagai Raja Lapangan Liat. Mimpi Djokovic mengulangi sukses Wimbledon 2011 juga kandas di final setelah kalah dari Roger Federer yang sekaligus memantapkan posisinya sebagai petenis putra dengan Grand Slam terbanyak. Kembali rekor baru tercipta di sini.

Di sektor putri memang selalu lebih berwarna dibandingkan putra. Selain Serena Williams,  dalam 10 tahun terakhir tidak ada petenis yang mampu meraih lebih dari satu Grand Slam dalam satu tahun. Tahun 2011 misalnya, Australia Open dimenangkan oleh Kim Clijsters, France Open diraih wakil pertama Asia Li Na, Wimbledon menjadi milik Petra Kvitova sedangkan Samantha Stosur kebagian US Open. Hal yang sama tetap berlanjut di 2012, Victoria Azarenka, Maria Sharapova dan Serena Williams berbagi tiga trofi Grand Slam yang sudah dipertandingkan. Hal ini yang membuat sektor putri selalu lebih menarik karena tidak ada yang benar-benar dapat memperkirakan hasil akhirnya.

Sektor putri di Grand Slam 2012 juga di warnai dengan munculnya petenis-petenis muda dengan status non unggulan atau under dog namun mampu menumbangkan para pemain-pemain dengan nama besar. Di France Open public cukup dikejutkan dengan permainan yang disuguhkan Sara Errani. Petenis muda dari Italia itu mampu memulangkan Ana Ivanovic dan Svetlana Kuznetsova di babak 16 dan 8 besar. Sebagai catatan Ana Ivanovic merupakan kampiun Rolland Garros 2008 dan Kuznetsova pada tahun berikutnya. Kejutan masih belum berakhir saat juara US Open 2011 Samantha Stosur juga dikalahkan di semifinal. Langkah Errani baru terhenti di final saat dikalahkan si cantik dari Rusia, Maria Sharapova.

Hal yang sama, bahkan lebih mengejutkan sepertinya juga terulang di US Open. Di gelaran terakhir Grand Slam 2012 pulangnya Kim Clijsters di babak kedua sudah sangat di luar perkiraan. Ini mengingat Clijsters adalah juara tiga kali US Open, dan kenyataan dikalahkan oleh petenis berusia 18 tahun peringkat 89 dunia sebagai penutup karir seolah mimpi buruk. Laura Robson, juga melanjutkan aksinya dengan memulangkan juara Cincinnati Master 2012 Li Na yang menjadi unggulan ke-9 di babak ketiga. Di babak selanjutnya, Robson akan berhadapan dengan juara US Open tahun lalu, yaitu Samantha Stosur. Kita tunggu saja apakah derita Stosur di Rolland Garros akan terulang lagi.

Gelaran US Open 2012 juga diwarnai dengan rencana mundurnya dua petenis mantan nomor satu dunia, Kim Clijsters  dan Andy Roddick. Selain merupakan turnamen penutupan Grand Slam, US Open punya arti tersendiri bagi keduanya. Andy Roddick adalah warga negara Amerika, dan menutup karir di tanah kelahiran tentu saja bukan pilihan yang buruk. Sementara buat Clijsters, meskipun bukan warga Amerika, tapi tiga dari empat Grand Slam yang diraihnya dia dapat dari ajang US Open, dan tentu saja kenangannya akan sangat kuat di sini. Tapi menjadi akhir yang kurang menyenangkan buat Kim, karena harus pulang di babak awal dan kalah oleh pemain peringkat 90 besar.

Cedera Rafael Nadal juga membuat peta persaingan US Open menjadi kurang berwarna. Sejak memenangi France Open, Nadal praktis tidak berpartisipasi dalam pertandingan apapun. Memang dia sempat tampil di babak awal Wimbledon, tapi harus mundur karena cedera yang menderanya. Yang diuntungkan tentu saja musuh-musuh bebuyutannya seperti Djokovic, Federrer dan Andy Murray.

Menarik juga melihat hasil drawing, Djokovic benar-benar diuntungkan dengan tidak ikutnya Nadal. Djokovic hampir tidak menemui lawan sulit sampai babak final nanti. Lawan paling berat hanya Del Potro atau David Ferrer di semifinal, tapi rekor pertemuan dengan keduanya masih milik Novak Djokovic. Serena Williams juga hampir sama, lawan-lawannya sebelum ke final relatif lebih mudah.

Tapi bagaimanapun, lapangan adalah kenyataan yang kejam dan sering kali tidak bisa diprediksikan. Fakta kalahnya para unggulan di tangan non unggulan sudah cukup memberikan bukti. So, let’s enjoy the play…

update:

Akhirnya gelaran US Open 2012 juga selesai, dengan hasil yang tidak terlalu mengejutkan. Sesuai prediksi, Serena Williams dan Novak Djokovic menjejak final hampir tanpa kesulitan berarti, meskipun sempat diganggu kendala cuaca. Kalaupun ada kejutan, itu hanyalah kandasnya petenis nomor satu dunia Roger Federrer di tangan Tomas Berdych. Namun Berdych sendiri akhirnya menyerah di tangan Murray yang akhirnya keluar sebagai juara.

Serena Williams memenangi Grand Slam ke-15 nya setelah menundukkan Azarenka di final. dan seperti yang saya tulis sebelumnya, tidak ada petenis putri lain selain Serena yang mampu memenangi dua gelar Grand Slam dalam tahun yang sama, dalam sepuluh tahun terakhir. Dan Serena juga membuktikan bahwa usia dan cedera yang pernah dideritanya tidak membuat dia habis sama sekali.

Dan gelaran Grand Slam putra akhirnya memang selalu berakhir dengan torehan rekor baru. Setelah rekor terlama di Australia Open, pengukuhan Raja Lapangan Liat di France Open, dan Grand Slam terbanyak di Wimbledon, sekarang giliran Andy Murray yang menyudahi puasa Grand Slam US Open bagi Inggris Raya selama 76 tahun. terakhir Inggris Raya membawa pulang trofi US Open adalah di 1936. Dan kemenangan Murray juga membuat empat petenis terbaik tahun ini harus berbagi masing-masing satu Grand Slam. Unggul bagi Murray bila medali emas olimpiade dihitung setara dengan Grand Slam.

Dan hasil akhir ini membuat musim 2013 semakin menarik untuk dinantikan. Melihat aksi Serena Williams yang semakin tua semakin haus gelar, dan mengira-ngira, siapakan petenis putra yang akan mendominasi musim depan.

Update lagi

Akhirnya musim 2012 benar-benar selesai dengan turnamen penutup akhir tahun ATP dan WTA World Tour. Akhiryang manis bagi saya, karena kedua jagoan saya akhirnya menjuarai keduanya. Novak Djokovic menutup 2012 dengan kebanggaan menjadi jawara di ATP World Tour Finals setelah mengalahkan Roger Federre di Final dan sekaligus merebut kembali ranking 1 dunia walau sebenarnya ranking satu dunia sudah dipastikan Djokovic beberapa hari sebelumnya. Di sisi lain, Serena Williams benar-benar mengukuhkan diri sebagai penguasa 2012 dengan menjuarai WTA World Tour Finals, meskipun secara ranking dia tidak berubah dari posisi tiga, masih kalah jauh dari Victoria Azarenka dan Maria Sharapova. Tapi ini tidak jadi luar biasa mengingat Serena mengawali musim dengan ranking diluar sepuluh besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: