Listrik Naik, Intelektual Naik

Ada yang berbeda akhir-akhir ini. Biasanya setiap kali pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak populer (baca: tidak menguntungkan rakyat), hampir pasti selalu akan ada demo. Apalagi kalau kebijakan itu menyangkut hal-hal pokok, ga mau tahu alasannya, demo besar-besaran pasti terjadi. Saat pemerintah berencana menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) awal tahun ini misalnya, seluruh Indonesia bergolak. Atau saat tahun lalu pemerintah juga sempat berencana menaikkan tariff dasar listrik (TDL) yang akhirnya juga batal.

Tapi hal yang sama tidak terjadi saat ini, setelah DPR akhirnya menyetujui kenaikan TDL tahun depan sebesar 15%. Hampir tidak ada demonstrasi, setidaknya tidak ada yang diliput media. Tidak ada pagar gedung pemerintah yang roboh, tidak ada asap-asap hitam dari bakaran ban bekas, ataupun jalan-jalan yang macet karena diblokir para pendemo. Kurang jelas apakah karena ada isu lain yang lebih besar, atau karena masyarakat yang memang sudah lebih cerdas dalam menanggapi suatu isu.

Kalau saya disuruh memilih, tentu saja saya berharap poin yang kedua, yaitu masyarakat sudah mau berpikir dulu sebelum bertindak. Kebijakan-kebijakan terkait kenaikan harga-harga memang selalu tidak mengenakkan, apalagi buat kita para konsumen. Terlebih kalau yang naik itu merupakan barang pokok yang selalu dibutuhkan, semisal listrik atau BBM itu. Selamanya tidak akan pernah populer. Tapi bagaimana pun juga, ada saat-saatnya hal tersebut tidak bisa kita hindari.

Untuk TDL 2013 yang bakalan naik 15% misalnya, kalau saya melihatnya memang suatu yang tidak bisa dielakkan, dengan keadaan Indonesia yang sekarang. Saya tidak akan membicarakan kemungkinan hal itu bisa dihindari kalo saja asset-aset di tangan asing bisa diakuisisi, kesepakatan royalti Freeport bisa diperbaiki atau sebagainya, karena hal-hal yang seperti itu tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Kita harus menerimanya dengan keadaan Indonesia hari ini, dan asumsi di 2013.

Saat tulisan ini saya buat, kurs rupiah terhadap dollar masih di level 9500, bandingkan saat awal 2012 yang hanya 9000. Beda 500 rupiah sangat besar artinya dalam penyusunan anggaran negara, meskipun mungkin untuk beli tempe goreng hanya dapat sepotong saja. Tambahan lagi, asumsi yang digunakan pemerintah untuk nilai tukar rupiah tahun depan hanya 9300, dan bukan 9500. Yang artinya, ketimpangan di anggaran masih dapat terjadi, meskipun TDL dinaikkan.

Tahun 2012, besarnya subsidi listrik sekitar 64 triliun rupiah, dan tahun depan dengan asumsi nilai tukar 9300, jika TDL tidak dinaikkan, maka subsidi yang harus ditanggung negara adalah 93 triliun. Ada tambahan hampir 30 triliun. Dan ini hampir dua kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya, karena sebelum 2012, subsidi listrik tidak pernah menyentuh 50 triliun. Beban yang sangat besar ditengah keuangan negara yang hampir selalu defisit.

Selain itu, kenaikan juga tidak dilakukan dengan membabi buta. Pertama, tidak semua masyarakat yang akan dikenai kenaikan. Bahkan,masyarakat kelas bawah, yang dinilai dengan beban listrik 450-900 watt, tidak dikenai kenaikan tarif sama sekali. Di sisi lain, rumah dengan instalasi listrik 6600 watt atau lebih, tidak mendapat subsidi listrik sama sekali, karena dianggap memiliki kemampuan ekonomi yang sudah mapan. Besaran subsidi dan kenaikan tarif di setiap pelanggan juga berbeda berdasarkan besarnya daya terpasang. Sebisa mungkin pemerintah menerapkan prinsip keadilan di sini.

Kedua, kenaikan yang 15% itu juga tidak akan dilakukan sekaligus di awal tahun, tapi bertahap. Mekanismenya, menurut Wakil Menteri ESDM Rubi Rubiandini, satu diantara dua pilihan terbaik. Bisa kenaikan dilakukan setiap bulan dengan besar kenaikan kira-kira 1.5% setiap bulan, atau 4.3% per tiga bulan. Sampai saat ini katanya, pihak PLN dan kementerian masih mempertimbangkan yang terbaik. Toh, PLN sendiri sudah menyanggupi bahwa dalam satu hari bisa lansung mengubah sistemnya.

Dengan sistim cicil seperti ini, diharapkan masyarakat tidak terlalu kaget dan merasa diberatkan. Ilustrasinya, bila awalnya satu rumah membayar listrik 100.000, maka kalau setiap bulan dinaikkan 1.5%, maka kenaikan yang harus di bayar hanya 1500 rupiah. Dan kalau masih merasa keberatan, mungkin bisa disiasati dengan melakukan penghematan dalam konsumsi listrik. Lampu kamar dan televisi yang menyala saat tidur, charger handphone atau laptop yang masih nancep saat tidak digunakan. Malah mungkin jadi bagus kalau dihubungkan dengan isu global warming. Saya malah akan mengusulkan kenaikan tarif saja kalau memang bisa menekan pemborosan listrik. :p

Kalau saya, seperti biasanya, saya tidak akan menilai sesuatu hanya dari satu pihak saja. Dan saya masih percaya, bahwa di pemerintah banyak orang-orang yang jauh lebih mampu menganalisa apa yang terbaik buat negeri ini. Yang penting, kita masyarakat mendapat penjelasan yang cukup, sesuai dengan porsinya. Demo sih boleh saja, kan bersuara dan berpendapat juga dilindungi undang-undang. Tapi akan lebih baik bila menilai tidak hanya berdasarkan apa yang kita mau, ikut sadar bahwa kenyataan di luar tidak selamanya seperti yang kita harapkan. Data dan kepala dingin lebih menyelesaikan masalah dibandingkan emosi dan gelap mata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: