Ely Sugigi: Dongeng Era Modern

Waktu kecil dulu saya sering membaca dongeng, cerita anak atau fabel tentang tokoh orang yang miskin, ga punya namun berhati jujur. Suatu hari dia menemukan harta (emas, uang, dompet, dll) dalam jumlah banyak. Saat itu Sang Tokoh sedang sangat membutuhkan uang (ibu/ anaknya sakit keras, atau belum makan) lalu terjadilah pergolakan batin antara mau menguasai harta itu atau berusaha mengembalikan ke pemiliknya. Pada akhirnya dia mengembalikan kepada yang punya, dan ternyata orangnya sangat kaya. Dan begitulah, dia diangkat jadi karyawan/ menantu dan akhirnya menjadi orang sangat kaya dan sukses.

Waktu kecil saya suka banget dengan cerita-cerita seperti itu, ya senormalnya orang-orang yang menyukai cerita dengan happy ending. Namun, seiring bertambahnya usia, saya akhirnya sadar bahwa itu hanyalah cerita yang dibuat-buat. Cerita yang dibuat untuk menyampaikan pesan moral bahwa kejujuran itu baik, pesan moral buat anak kecil. Dan bahwa sebenarnya kejadian itu sama sekali tidak pernah ada.

Namun sore ini akhirnya saya tahu bahwa sekarang kisah itu bukan lagi sekedar cerita. Habis shalat Magrib, berbaring kecapekan karena seharian bekerja, saya nonton talkshow-nya Deddy Corbuzier. Awalnya sempat kesal karena disuguhi tontonan girlband dengan kepala kosong, tapi bintang tamu selanjutnya membuat saya terpesona.

Namanya Ely Suhari, tapi lebih terkenal dengan nama Ely Sugigi. Nama julukan ini diberikan orang-orang karena dia memang memiliki kelebihan di giginya, kelebihan dalam artian sebenarnya, yaitu giginya kelewat maju dan panjang. Sejujurnya, dialah orang dengan gigi paling maju yang pernah saya lihat. (maap ya mpok, bukan menghina lho). Dia bercerita tentang kehidupannya.

Dulunya dia hidup cukup susah, berbekal pendidikan SMA di Jakarta tentu saja bukan hal yang gampang mendapatkan pekerjaan. Semua yang bisa dilakukan, dia lakukan, termasuk jadi pembantu rumah tangga. Tapi biaya hidupnya tetap tidak bisa tercukupi dengan itu semua. Dan berhutang salah satu jalan pintas yang ditempuhnya, yaaah, seperti kita kebanyakan.

Pernah juga akhirnya dia kabur dari para penagih hutangnya, karena uangnya benar-benar habis. Itu semua diakuinya, dan bukan karena dia ingin menipu, tapi karena memang tidak punya apapun untuk membayar, sementara penagih hutang mungkin juga sudah habis kesabaran.

Suatu hari dia melihat ada acara di televisi yang mengadakan acara kuis yang hadiahnya uang. Tergiur dan memang butuh uang cepat, dia datang ke stasiun TV itu. Namun memang belum rejekinya, pendaftaran audisi sudah ditutup saat dia datang ke stasiun. Dan dia pulang dengan hampa.

Lain hari Ely diajak oleh temannya untuk menjadi penonton acara televisi. Seusainya acara dia menemukan sebuah handphone tergeletak begitu saja. Seperti juga dalam cerita, batinnya bergejolak. Akankah dia mengambil saja handphone itu, menjualnya untuk membayar hutang, atau mengembalikan ke pemiliknya. Dan pada akhirnya malaikatnya yang menang, dia mengembalikannya kepada resepsionis.

Dari sinilah semuanya berawal. Handphone itu ternyata milik salah seorang produser di stasiun TV tersebut. Dia disuruh datang, ditanya-tanya ini itu, termasuk juga kalau dia baru saja usai jadi penonton suatu acara di TV itu agar mendapatkan uang.

Produser itu lalu mengajukan ide yang baginya, dan mungkin juga buat kebanyakan orang, sangat tidak biasa. Ely diminta membuat manajemen sendiri untuk para penonton acara-acara di televisi. Awalnya dia merasa ragu dan itu diutarakannya kepada sang produser. “Apakah saya bisa, Mas? Apalagi saya tidak mempunyai modal”

Tapi sang produser pun meyakinkannya. Dan Ely pun memberanikan diri. Karena tidak memiliki modal, dia nekat meminjam kepada salah seorang artis. Dan ajaibnya, meski tidak mengenal dekat Ely, artis tersebut mau saja meminjaminya dengan jumlah yang tidak sedikit buat Ely (meski mungkin ga seberapa buat sang artis).

Dan demikianlah. Kejujuran (dan mungkin juga kelebihan pada giginya itu) membawa rezeki yang tiada henti-hentinya mengalir. Saat ini Ely Sugigi memiliki ratusan orang di bawah manajemennya dengan omset sampai ratusan juta rupiah setiap bulannya. Apalagi bisnis manajemen penonton juga masih sangat asing di Indonesia. Dia tidak perlu lagi terlalu khawatir akan hidupnya. Hutang diakuinya kadang-kadang masih ada, tapi tentunya hutang selayaknya pelaku bisnis, bukan lagi hutang untuk sekedar bertahan hidup. Dia bisa membantu orang tuanya, menyekolahkan anak-anaknya dengan layak. Ely juga memiliki sedan mewah untuk menunjang pergerakannya kemana-mana, dan rumah milik sendiri. Bukan itu saja, dengan manajemen yang dia miliki, berarti dia juga membantu ratusan orang lain di bawahnya. Menurut pengakuannya, sebagian besar anggotanya itu bergabung dengan banyak alasan baik. Membantu orang tua dan membiayai kuliah hanya dua diantaranya.

Mendengar dan melihat dia menuturkan kisah hidupnya saya berpikir ulang tentang lunturnya kepercayaan saya kepada cerita-cerita masa kecil itu. Dan menguatkan keyakinan saya, bahwa Tuhan itu ada dan tidak pernah abai akan hamba-Nya. Bahwa kejujuran dan perbuatan baik tidak pernah sia-sia. Andaikan saja saat itu Ely mengambil handphone itu untuk dijual sendiri, pastilah hidupnya tidak akan seperti sekarang. Kalau tertangkap, kemungkinan besar dia akan berakhir di penjara. Kalaupun tidak tertangkap dan menjualnya, kemungkinan Ely hanya akan mendapatkan sekitar dua juta, dan selesai sampai di sana. Tidak sebanding dengan puluhan juta yang dihasilkannya sekarang.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: