Kreatifitas Seluas Panggung

Tanggal 21 – 25 November 2012 kemarin 17 kementrian bersama-sama menggelar Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2012. Pada kegiatan yang diketuai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Marie Elka Pangestu ini, harapannya anak bangsa bisa menunjukkan kreasinya kepada dunia, sekaligus diapresiasi oleh pengunjung yang sebagian diantaranya notabene juga anak bangsa. Ajang untuk saling mengakui dan diakui. Menguatnya gelombang kreatif Indonesia, dan menciptakan jejaring antara para pelaku industri kreatif Indonesia menjadi tujuan utama dari diselenggarakannya event ini.

Acara ini bukan kali yang pertama, karena sudah menjadi ajang tahunan sejak 2007. Dan PPKI bukan satu-satunya kegiatan yang diselenggarakan untuk membanggakan produk-produk hasil kreasi anak bangsa. Ada Pameran Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia (PAREKRAF), Indonesia Tourism & Creative Economy Fair (ITCEF), Kampung Kreatif dan beragam kegiatan serupa dengan nama yang beragam lainnya. Belum lagi bila dihitung dengan stand-stand produk kreatif yang berada di pameran dan event-event yang bukan bertema produk kreatif, jumlahnya makin tidak terhitung.

Tapi meskipun ada sedemikian banyaknya ajang seperti itu, bisa dikatakan hasilnya belum signifikan bila dilihat dari dampaknya pada kegiatan ekonomi dalam negeri, baik produksi maupun konsumsi. Kebanyakan produk-produk tersebut hanya mendapatkan respon positif saat kegiatan berlansung, dan menghilang begitu pameran selesai. Sebagian ada yang beruntung mendapatkan pasar luar negeri dan masyarakat kebanyakan pada akhirnya tetap lebih memilih produk impor. Meski pun tidak semuanya, tapi fakta di tengah masyarakat tetap tidak bisa dielakkan.

Gagal atau kurang berhasilnya kegiatan-kegiatan semacam ini tidak bisa hanya disalahkan pada salah satu pihak saja, atau melihatnya dari satu sudur pandang. Konsumen misalnya, setidaknya ada tiga hal utama yang selalu dipermasalahkan yaitu kualitas produk (quality), pehatian produsen kepada konsumen (customer care), dan pengemasan produk (packaging).

Kualitas produk adalah pertimbangan utama pembeli memilih barang dan jasa. Namun harus diakui masih banyak produsen dalam negeri yang belum memberikan perhatian penuh kepadanya, bahkan meskipun mengetahui power dari kualitas. Banyak yang mampu memproduksi barang bagus saat pameran, namun gagal mempertahankannya saat harus memproduksi secara massal. Dan yang lebih buruk, kebanyakan produsen memutuskan mengirim kualitas nomor satu keluar negeri dan mengedarkan mutu lebih rendah di dalam negeri. Dan inipun didukung kebijakan pemerintah yang mendorong ekspor sebanyak-banyaknya barang-barang berkualitas baik. Dan konsumen yang tidak mau menjadi korban akhirnya tetap memilih barang impor bermutu baik.

Setiap produsen pada dasarnya mengusahakan agar produk yang dihasilkan selalu sempurna. Namun bagaimanapun tidak ada yang bisa menjamin segalanya selalu sempurna. Untuk mengantisipasi hal-hal semacam inilah maka perlu adanya layanan customer care dan garansi. Konsumen pun saat melihat barang yang dilabeli tulisan ‘jaminan mutu’ atau ‘garansi’ tidak akan menganggap bahwa produk itu jelek. Tapi sebaliknya, kepercayaan calon pembeli justru meningkat karena produsen berani mengambil rugi demi memastikan produk terjamin baik, siap menerima complain kalau memang produknya terbukti tidak seperti yang dipromosikan. Pembeli memilih barang yang dilengkapi dengan garansi dan customer care bukan berarti berharap akan memanfaatkannya, tapi demi keamanan dan meningkatkan kepercayaan.

Sekarang saat kita kembali membicarakan produk-produk yang dipamerkan di pameran, berapa banyak yang sudah disertakan dengan nomor layanan pelanggan, customer care atau garansi. Kebanyakan yang diberikan adalah kontak apabila pembeli ingin memesan kembali. Meskipun dari sisi produsen menganggap bahwa complain juga bisa dialamatkan kepada alamat tersebut, tapi kebanyakan alpa menyebutkannya. Lebih jauh lagi, kalaupun ada yang menghubungi kembali terkait produknya, tidak banyak yang memroses lebih lanjut. Pada akhirnya hak-hak konsumen diabaikan. Sangat berbeda bila kita membeli barang-barang dari luar negeri, hampir semuanya disertai dengan nomor layanan pelanggan meskipun seperti yang digambarkan sebelumnya, tidak banyak yang memanfaatkannya.

Masalah ketiga yang juga sangat disoroti konsumen adalah kemasan produk. Ini akan sangat terlihat apabila yang kita bicarakan khusus barang-barang di pameran. Mengedepankan produk melupakan kemasan dengan alasan ini hanyalah pameran dan belum produksi untuk dipasarkan. Padahal tujuan mereka ikut pameran jelas-jelas supaya konsumen mengenal produk mereka dan tertarik menggunakannya. Ada juga yang yang melabeli dengan asal-asalan dengan alasan menekan biaya produksi. Padahal harga jual yang sedikit lebih tinggi, bila disesuaikan dengan mutu produk dan kemasan yang menjual, tidak akan dipermasalahkan oleh pembeli. Lihat saja kebanyakan perusahaan besar yang malah sengaja menyewa jasa design consultant khusus untuk meningkatkan penjualan produk mereka.

Seperti sudah dibahas sebelumnya, menghilangnya produsen seusainya pameran bisa berarti mereka berhenti produksi sama sekali atau mengalihkan sasaran ke pasar luar negeri. Berhenti produksi sama sekali bisa disebabkan kekurangan modal untuk produksi massal atau fokus ke kegiatan lain terlebih dahulu. Alasan yang terakhir ini biasanya berlaku apabila produsen adalah mahasiswa yang masih dalam tahap coba-coba, dan belum serius menggarap produknya. Biasanya mereka ikut pameran karena produk yang mereka hasilkan sebelumnya disertakan dalam event atau lomba dan mendapatkan respon positif. Tapi mereka belum berniat serius menggarap produknya karena masih harus kosentrasi ke studi. Sementara ketiadaan modal biasanya terjadi pada pelaku Usaha Kecil Menengah dengan akses ke sumber modal yang masih kurang. Kebanyakan masih takut dengan imej bank, koperasi, dan kreditor lainnya yang dianggap seperti rentenir dan takut tidak bisa melunasi pinjamannya.

Yang justru harus lebih diperhatikan adalah produsen yang mengalihkan pasarnya ke luar negeri. Beberapa pelaku usaha menyebutkan mereka memilih luar negeri karena konsumen dalam negeri tidak percaya dengan produk dalam negeri. Imej produksi dalam negeri bermutu kelas dua terlalu melekat di tengah publik, belum lagi ada kebanggan dan gengsi tersendiri saat menggunakan barang impor dan bermerek luar. Ini adalah alasan utama mengapa akhirnya produsen memilih luar negeri.

Kebijakan pemerintah pun sangat menentukan kelanjutan dari siklus ini. Seperti tadi, kebijakan pemerintah mendorong ekspor sebanyak-banyaknya terutama barang bermkualitas bagus jelas bukan mendorong tumbuhnya kencintaan produk dalam negeri. Atau juga kebijakan pemerintah yang memberlakukan pajak impor bahan baku lebih tinggi dari pada barang jadi. Pada akhirnya konsumen akan memilih barang impor dengan mutu bagus dan harga murah.

Dan semuanya kembali ke teori lama, bahwa perubahan tidak akan bisa berlansung bila tidak semuanya ikut berbenah diri. Konsumen memilih produk impor karena tidak ada barang berkualitas baik di pasaran sebab yang berkualitas bagus habis diekspor semua, tapi produsen berkilah mereka memilih pasar luar negeri karena berasumsi konsumen menganggap barang impor lebih baik. Di sinilah dituntut peran pemerintah untuk menjembatani keduanya, mengembalikan posisi pelaku usaha menjadi tuan rumah di negeri sendiri, konsumen mendapatkan barang bagus dengan harga murah dan sekaligus menyukseskan program 100% Cinta Indonesia. Namun sebagaimana semua teori lama lainnya, hal ini pasti tidak akan mudah untuk diterapkan. Tapi tidak mudah bukan berarti tidak bisa, dengan komitmen bersama semua pasti akan terwujud.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: