5cm The Movie: (bukan) Sebuah Dokumenter

Saya yakin, pandangan saya terhadap film ini akan berbeda, bila saja saya belum membaca novel aslinya saat menonton film ini.

5cm, novel laris karya Donny Dhirgantoro ini pertama kali saya baca di tahun 2005. Agak membosankan, itu pikiran pertama saya saat membaca beberapa halaman pertamanya. Namun karena pantang menghentikan apa yang sudah saya mulai oleh karenanya saya melanjutkan membaca. Interpretasi saya di awal lansung hilang begitu beberapa lembar berikutnya saya balik. Dan ketika novel itu selesai saya baca, saya jatuh cinta. Salah satu novel Indonesia terbaik yang pernah saya baca sampai saat itu. Inspirasi dari seorang penulis yang mencintai tanah airnya.

Saat itu, adaptasi novel ke layar lebar belumlah populer di Indonesia. Tapi saya punya harapan untuk bisa menyaksikan novel tersebut dalam bentuk gambar-gambar bergerak, dan bila itu bisa diwujudkan, saya yakin akan sukses besar. Tidak hanya sukses dilihat dari sisi komersil, tapi juga bakalan sukses menginspirasi banyak anak muda di Indonesia.

Di akhir tahun 2012 ini akhirnya keinginan itu terwujud. Seumur-umur, saya tidak pernah sengaja bangun pagi hanya untuk mengejar antrian tiket bioskop di hari pertama pemutaran film, tidak pernah sampai tadi pagi. Agak bersyukur karena pemutaran perdananya itu dilaksanakan di hari weekdays, dan perkiraan saya sesi pertama tidak akan terlalu ramai karena orang-orang masih di sekolah, kampus atau tempat kerja masing-masing.

Diperankan oleh sederet bintang muda yang saya ketahui memang berbakat, saya yakin film ini akan menjadi sajian penutup tahun 2012 yang manis. Apalagi dengan cara promosi filmnya yang sederhana namun tepat sasaran, interaksi lansung penulis novelnya (dan para pemeran filmnya) dengan pembaca melalui media sosial. Filmnya sudah terkenal lebih dahulu, bahkan sebelum para pemeran tokohnya lengkap.

Lansung ke filmnya, menit-menit pertama, saya senang akhirnya keinginan lama saya itu akhirnya bisa terwujud. Filmnya seperti yang diinginkan, persis seperti yang ada di novelnya. Bahkan sampai-sampai perdebatan setan dan malaikatnya tokoh Zafran (Herjunot Ali) saat (tak sengaja?) melihat G-String yang dikenakan Arinda (Pevita Pearce) yang disukainya itu juga ada. Gambaran kepemimpinan Genta (Fedi Nuril, atau kebiasaan Riani (Raline Shah) yang suka meminta kuah indomie dari Ian (Igor Saykoji), atau juga kebiasaan lucu dan aneh keluarga Arial (Denny Sumargo) dan Arinda yang sangat taat aturan, adegan telepon Zafran dan Arinda pun semuanya ada.

Tapi setengah jam berlalu, saya mulai merasa kalau alur dan tempo ceritanya terlalu cepat. Perpindahan dari satu adegan ke adegan lain sangat cepat, sehingga terkesan dipaksakan. Misalnya, adegan konsultasi skripsi Ian dengan dosen pembimbingnya, Sukonto Legowo (Anugrah Prahsta), hanya menampilkan kalimat terkenal sang dosen killer. Cuma saya juga menyadari tidak mungkin membuatnya sedetail di novel, apalagi di novelnya penggambaran tokoh dan adegannya bisa dibilang nyaris sempurna.

Beberapa menit berikutnya saya mulai kurang antusias menonton. Ada beberapa bagian yang dihilangkan, padahal menurut saya justru itu termasuk inti dari ceritanya. Menghilangkan bagian-bagian tersebut membuat emosi dari keseluruuhan cerita tidak bisa tersampaikan kepada penonton, terutama yang belum membaca novelnya.

Seperti misalnya, adegan-adegan di kereta api hampir seluruhnya di hilangkan, kecuali yang bagian Ian ‘memberitahu’ yang lain tentang sidangnya (di novel tentang wisuda). Sementara adegan ibu penjual gudeg ataupun penumpang yang ketahuan tidak memiliki tiket itu tidak ditampilkan, atau pembicaraan tentang Plato dan Socrates, begitu juga gejolak batin Zafran melihat Arial yang sangat dermawan kepada para pengemis. Dan yang paling mengecewakan saya, adegan di angkot dengan Mas Gembul juga tidak ada.

Saya bilang mengecewakan, karena adegan-adegan itu lah yang nantinya membuat kita sampai pada akhir cerita. Dan inspirasi terbesar saat saya membaca novelnya justru saya dapat dari bagian-bagian yang hilang itu. Bagaimana mereka menyadari bahwa Indonesia itu tidak hanya Jakarta, bahwa penjual gudeg dan penumpang gelap kereta api juga bagian dari Indonesia yang mereka perjuangkan di 1998. Bagaimana kita disadarkan bahwa bayang-bayang ketakutan bisa menghalangi dari kesuksesan. Dan perubahan pandangan Ian terhadap tanah airnya juga dimulai dari sosok Mas Gembul si sopir angkot.  Mas Gembul juga yang mengajarkan tentang mimpi, tekad dan keteguhan hati untuk menjadi sosok yang lebih baik, bahwa penjahat pun bisa berubah.

Tapi kekecewaan saya terobati dengan suguhan-suguhan alam Semeru yang memang sangat luar biasa bagi saya. Kali ini saya acungi jempol, aslinya jauh lebih bagus dari yang bisa digambarkan melalui kata-kata. Danau Ranu Kumbolo itu luar biasa seperti yang diceritakan, melihat matahari terbit dari atas awan, dan ombak dari pucuk-pucuk awan itu benar-benar luar biasa.

Secara umum saya menilai film ini bagus. Bagus tanpa embel embel di depan atau belakangnya. Bukan (cukup) bagus, (sangat) bagus atau bagus (banget). Mungkin penilaian saya akan berbeda bila saya menontonnya tanpa tahu cerita aslinya seperti apa.

Nilai lebihnya film ini adalah menampilkan cuplikan alam Indonesia yang saya katakan SANGAT LUAR BIASA INDAH. Selain itu chemistry antar pemain saya rasakan juga sangat pas, seolah-olah mereka benar-benar kelompok sahabat yang dicasting untuk project ini, bukan bersahabat setelah dipilih. Dari sini saya mengacungkan semua jempol yang saya punya dan yang dibawah kuasa saya :p

Tapi kekurangan yang saya catat juga cukup banyak, sekali lagi ini mungkin karena saya telah membaca cerita aslinya. Selain alur yang cepat, tidak terlihat inspirasi yang saya harapkan dari film ini, tidak ada inspirasi dari Ibu Gudeg, dari Socrates-Plato, dari Mas Gembul bahkan dari Adrian-Deniek. Deniek tidak muncul di film, begitu juga Adrian. Hanya ada adegan mereka menemukan sekelompok orang menekuri makam (Adrian), tapi emosinya sangat jauh dibandingkan saat membaca novelnya. Begitu juga adegan Ian dan Zafran yang ‘disemangati’ arwah Adrian, otomatis juga dihilangkan.

Satu lagi yang saya rasakan, kesan naturalnya juga agak kurang. Terlihat jelas kalau semuanya diatur untuk sebuah film, terutama adegan-adegan di gunung. Di Ranu Kumbolo yang digambarkan ramai, di film sepi tidak ada orang selain mereka. Ketika di puncak pun sangat jelas terasa kalau orang-orang lain yang berada di sana selain tokoh sentral adalah orang-orang film dan penduduk sekitar gunung yang mungkin sengaja diajak untuk keperluan film, bukan benar-benar pendaki. Adegan upacara benderanya diganti dengan “Deklarasi Cinta Indonesia dan Sahabat” para tokoh dengan semua orang lain di puncak itu berada di belakangnya. Itu annoying menurut saya, apalagi melihat ekspresi orang-orangnya yang datar. Begitu juga melihat para pemainnya yang naik gunung menggunakan jeans, atau di beberapa adegan terlihat para pemain menaiki gunung dengan postur tubuh tegak bukannya agak ‘membungkuk’ seperti normalnya orang mendaki gunung.

Tapi overall, saya terhibur dari awal sampai akhir.  Cuma untuk hal-hal ini tidak usah saya gambarkan secara detil, supaya menjadi surprise saat menontonnya. Saya juga sangat memahami kenapa banyak adegan yang dihilangkan, karena tidak mungkin memuat semuanya dalam tayangan berdurasi dua jam. Tapi saya sendiri tidak akan menolak lima jam di dalam bioskop untuk menyaksikan semuanya, atau meniru beberapa film lainnya, membaginya menjadi dua bagian. Saya rasa itu akan lebih membuat puas penonton dari pada menghilangkan inti cerita.

Pada akhirnya, film yang saya harapkan bisa menginspirasi Indonesia tentang mimpi, persahabatan, cinta dan kecintaan akan Indonesia lebih cocok bila saya sebut sebagai Dokumenter Alam Semeru, Alam Indonesia. Hampir setengah filmnya memang menampilkan sisi-sisi terbaik dari Gunung Semeru dan Puncak Mahameru, dan untuk ini saya memberikan penghargaan setinggi-tingginya. Tapi inspirasi dan emosinya tidak terlalu kuat saya rasakan. SEKALI LAGI lagi, ceritanya akan lain kalau saya belum pernah membaca cerita aslinya. Saya rasa saya tidak mendapatkannya maksimal karena terlanjur kecewa karena adegan-adegan yang saya tunggu tidak ada, atau tidak seperti yang saya inginkan.

 Saya bukan kritikus film, dan tidak layak juga disebut pengamat, bahkan menulis resensi yang baik pun saya tidak bisa. Tulisan ini hanya pandangan saya sebagai penonton, konsumen setelah menikmati sebuah karya dan tentu saja sangat subjektif. Tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin menyuarakan pendapat. Jika setelah membaca ini keinginan untuk menonton terus bertambah, saya tidak dibayar penulis ataupun kru filmnya untuk memuji mereka, dan sebaliknya, saya juga tidak punya maksud menjatuhkan citra film ini saat menuliskan kekurangan-kekurangan yang saya rasakan. Bagaimanapun, Donny Dhirgantoro tetap salah satu inspirasi Indonesia menurut saya, dan film dari buku kedua tetap saja saya tunggu.

Dan kalau ditanya, “Jadi film ini recommended atau tidak untuk ditonton,” saya akan jawab iya. Dibalik semua kekurangan yang saya tuliskan, masih ada sangat banyak nilai-nilai positif yang akan kita dapatkan setelah menontonnya.

Yogyakarta, 12-12-12

ps: silakan tinggalkan komentar bila merasa tidak setuju, ataupun mempunyai pendapat lainnya, ataupun ungkapan persetujuan, terutama supaya yang lain mendapatkan informasi yang seimbang😀

update:

hampir sebulan sejak pertama kali rilis, saya cukup mengamati komentar orang-orang tentang film ini, yang sebelumnya sudah membaca novel ataupun yang belum. Kalo dari twit-twit yang di-retweet atau di replay oleh penulis dan pemain filmnya, semuanya bilang baik, bagus, luar biasa, bahkana da yang mengaku sudah menonton sampai 9 kali. Hampir tidak ada komentar yang tidak bagus, tapi saya rasa wajar sih, kalo di-retweet juga kan malah kontraproduktif untuk film-nya yang masih tayang.

Tapi banyak orang-orang yang saya temui yang mengaku film-nya biasa saja, bahkan cenderung kosong. Ada juga tulisan dari beberapa kritikus film yang menulis hal yang tidak jauh beda dengan yang saya tulis. Film ini jauh dari ekspektasi penggemarnya. Mengedepankan keindahan alam Indonesia ya, tapi selain itu hampir tidak ada. Seorang jurnalis kritikus film juga menggambarkan dengan detil lubang-lubang yang ditemui dalam film-film ini, dan mengakhirinya dengan kata, TAK TERSELAMATKAN, apalagi buat yang belum membaca novelnya karena harusnya banyak cerita yang tidak nyambung. Tapi dia juga memberikan penilaian sempurna untuk keberhasilan film ini mengabadikan keindahan Semeru, yang menurutnya sampai menggunakan helikopter segala.

Satu pertanyaan saya, apa sih yang membuat orang sampai berkali-kali bolak balik menonton filmnya. Jalan ceritanya yang (menurut saya) biasa aja itu? Atau keindahan alamnya? Tapi apapun itu, semoga bukan hanya sekedar memandangi wajah-wajah bagus, ganteng dan cantik para pemainnya..

Keep inspiring, keep your dreams

4 comments

  1. GINZO

    setuju banget….. saya juga kurang puas karna banyak yang dihilangkan…..
    seperti yang mas sebut dan yang sayang banget pada saat di Ranu kumbolo memulai percakapan dengan tebak2an quote, lagu hingga teori relativitas nya einstein terlihat banget keakraban sahabat2 itu….
    dan mengibarkan sang saka merah putih d puncak tertinggi jawa dengan diiringi Indonesia Raya…… #sayangsekali….. tapi secara keseluruhan BAGUS….

  2. hamba Allah

    Novel 2005 ya? Boleh pinjam mas?

  3. alfathirahmat

    @Ginzo

    iya, tapi pasti penulis skenario, sutradara dan juga Mas Donny-nya sendiri udah memikirkan dengan baik kenapa harus dihilangkan, Mas Donny-nya juga saya yakin berat sih buat menghilangkannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: