Salah Jurusan

Ini bukan lagu yang pernah dirilis /rif di tahun 2002 atau pun tentang orang-orang yang tersesat di jalanan. OK, sedikit ada hubungannya dengan yang kedua, tapi jalan ini bukan jalanan yang secara fisik kita lihat sehari-hari, yang biasa dilintasi mobil-mobil bermerek ataupun yang dikawal oleh deretan pedagang kakilima. Bukan jalanan yang itu.

Satu atau dua minggu ke depan, sebagian besar mahasiswa di Indonesia akan menempuh ujian akhir semester. Untuk mahasiswa tingkat akhir mungkin ini bukan lagi sesuatu yang baru meskipun tetap harus mendapatkan perhatian khusus, tetapi buat mahasiswa tahun pertama dan mungkin juga tahun kedua, ini adalah penentuan nasib mereka selama bertahun-tahun kedepannya. Saya sebut penentuan nasib, karena biasanya hasil semester pertama akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada kelanjutan studi mereka sampai Insya Allah nanti selesai.

Bukan rahasia lagi kalau mahasiswa semester awal masih disibukkan dengan pencarian jati diri, benarkah dia sudah memilih jalan yang tepat dan berada di tempat yang benar. Ada kalanya mereka sudah memilih jalan yang benar tapi ternyata itu bukan tempat seharusnya dia berada, atau lebih parahnya jalan dan tempatnya sama sekali tidak cocok untuknya. Makanya, hasil dari semester pertama sangat menentukan langkah selanjutnya.

Masalahnya adalah, bagaimana kalau ternyata akhirnya kita menyadari bahwa kita berada di tempat yang tidak seharusnya kita berada, bahkan seandainya pun kita sendiri yang memilihnya. Banyak kasus di mana mahasiswa merasa salah jurusan walaupun mereka sendiri yang memilihnya. Beberapa hari lalu pun saya pernah dicurhati (halah) tentang hal yang sama oleh seseorang.

Sekarang saya akan membuat pengakuan, saya sendiri sebenarnya merasa salah jurusan. Status saya sebagai mahasiswa Farmasi di universitas paling terkemuka di Indonesia, Universitas Gadjah Mada sebenarnya adalah pilihan saya sendiri, dan sejujurnya dari kecil saya ingin menjadi peneliti dan pembuat obat-obatan. Jadi sebenarnya saya lah yang memilih jalan ini. Tapi ya itu, tetap saja saya merasa saya bukan berada di tempat yang seharusnya.

Ehm, OK dari pada tidak bingung lebih baik saya ceritakan lengkapnya dari awal saja.

Beberapa tahun lalu, saat saya menamatkan pendidikan menengah, saya seperti yang lainnya juga disibukkan dengan pemikiran kemana saya akan melanjutkan pendidikan selanjutnya. Saat itu universitas negeri yang ada di pikiran saya hanya dua, UGM dan ITB, entah kenapa saya tidak pernah tertarik dengan UI. Oleh karena itu saya memutuskan UGM dan ITB menjadi pilihan saya saat mengisi formulir SPMB (sekarang SNMPTN) saya saat itu.

Bersamaan dengan berakhirnya SPMB, saya juga diundang untuk melanjutkan test untuk aplikasi saya ke sebuah perguruan tinggi terkenal di Tokyo, lewat kedubes Jepang di Jakarta. Test ini sebenarnya cukup menyita waktu, dan dengan kemampuan dan nilai saya saat itu, saya merasa yakin akan lolos seleksi baik di dalam negeri maupun yang di luar negeri. Tapi orang tua dan keluarga selalu punya pikiran lain dan menyarankan saya mendaftar ke perguruan tinggi swasta. Universitas Pelita Harapan (UPH) dan Bakrie School of Management (BSM, sekarang Universitas Bakrie) jadi pilihan saya saat itu karena kebetulan mereka juga menyediakan beasiswa full payment untuk yang melewati serangkaian seleksi. Beasiswa menjadi pertimbangan utama karena untuk kuliah di universitas swasta bagus jelas tidak murah, dan swasta kurang bagus sama sekali tidak menarik minat.

Singkatnya, saya diterima di jurusan Hubungan  International UPH dan Akuntansi BSM sekaligus, dan lengkap dengan beasiswa yang kalau diuangkan nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Dalam waktu yang hampir bersamaan saya juga diterima di Farmasi UGM (sedangkan ITB otomatis gugur karena lewat jalur yang sama dengan UGM). Meskipun agak dilema, tapi waktu itu sejujurnya saya tidak terlalu sulit membuat keputusan.

Saya sudah menyadari saat itu kalau saya punya ketertarikan di bidang hukum, politik dan juga ekonomi. Bahkan waktu SMA saya juga pernah memenangkan sebuah kompetisi menulis di bidang ekonomi. Tapi ego saya sebagai anak IPA membuat saya memilih Farmasi, apalagi UGM universitas impian saya sejak kecil meskipun UPH dan Bakrie juga bukan pilihan yang buruk sebenarnya. Keputusan ini pun didukung penuh oleh orang tua, menurut mereka rezeki itu sudah ditentukan oleh Yang Kuasa, kalau saya memang berhak atas beasiswa, Insya Allah di UGM pun ada beasiswa.

Keputusan sudah diambil, saya segera berangkat ke Jogja. Dalam prosesnya pun saya mendapat banyak kemudahan sehingga saya semakin yakin bahwa inilah jalan yang dipilihkan Allah untuk saya. Registrasi selesai, upacara penyambutan, ospek dan akhirnya kuliah.

Dari SMA saya sudah terbiasa untuk tidak hanya belajar, tapi juga berorganisasi. FYI, di SMA saya pernah menjabat sebagai Ketua OSIS dan Ketua Pramuka (meskipun yang pramuka akhirnya saya lepas karena ga mau dibilang maruk dan ga fokus huhu). Saya juga aktif di sebuah organisasi pelajar di luar sekolah, oleh karenanya sudah merasakan manfaatnya berorganisasi.

Semester pertama itu saya mencoba peruntungan di tiga organisasi sekaligus, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Kerohanian Islam (SKI) dan sebuah UKM penelitian (Gama Cendekia). Badan Eksekutif Mahasiswa saya pilih sebagai kelanjutan dari OSIS, Gama Cendekia karena keinginan saya menjadi peneliti dan bertukar ilmu sementara SKI sejujurnya lebih karena permintaan kakak ^_^. Saya juga pernah datang tiga kali ke pertemuan anggota pramuka sampai akhirnya memutuskan kegiatannya tidak lagi seru seperti saat SMP dan SMA sehingga memutuskan tidak melanjutkan.

Selewatnya enam bulan, saya akhirnya melepas SKI karena merasa berat aktif di tiga organisasi sekaligus, disamping kegiatan perkuliahan dan praktikum yang juga berat. SKI yang saya pilih karena tidak mau melepas BEM ataupun Gama Cendekia. Lagipula, kalau ingin belajar agama tidak harus melibatkan diri dalam organisasi tertentu, toh dengan tidak menjadi anggota saya tetap bisa ikut kajian dan lain-lain (sedikit boong gapapa ya, sebenarnya karena merasa ga cocok sih :p).

Gama Cendekia merupakan UKM pengkajian dan penelitian interdisipliner, sehingga yang bergabung di sini bukan hanya mahasiswa farmasi, kesehatan atau eksakta saja, tapi semua jurusan boleh bergabung. Bergabung di sini saya punya banyak kesempatan belajar banyak hal dan bertukar pikiran. Begitu juga dengan BEM, kebanyakan diisi oleh mahasiswa-mahasiswa ilmu sosial. Dan di sinilah semuanya berawal.

Sering ngobrol dengan teman-teman dari sosial membuat saya lama kelamaan semakin tertarik dengan dunia mereka. Saya merasa lebih excited diskusi masalah politik dari pada mendengarkan penjelasan dosen tentang jalur biosintesis sebuah senyawa aktif tanaman obat. Saya senang berada di laboratorium, tapi nyamannya berbeda dengan waktu-waktu saya membaca buku-buku tentang manajemen.

Kenyataan tersebut harus dibayar dengan kenyataan saya memperoleh nilai jelek di semester pertama. Yah, sebenarnya ga parah-parah amat, tapi saya bilang jelek karena selama 12 tahun sekolah saya tidak terbiasa mendapatkan nilai biasa atau cukup, saya selalu menjadi yang terbaik. Dan nilai saya saat itu saya rasa jauh dibawah kategori memuaskan.

Semester dua saya dimulai dengan kegalauan (meski saat itu namanya bukan galau) akan kelanjutan studi saya. Sempat berpikir bahwa belum terlambat untuk kembali dan memulainya lagi dari awal. Sudah hampir pasti bahwa saya tidak seharusnya berada di laboratorium membolak-balik tabung reaksi, tempat saya adalah ruang diskusi. Di akhir semester dua ini juga sempat berpikir untuk ikut SPMB lagi (sudah berganti nama menjadi SNMPTN), bersama beberapa orang yang juga merasa salah jurusan di farmasi.

Niat itu akhirnya urung, karena tiba-tiba saya ingat bahwa ini adalah keputusan saya sendiri, dan tidak sebaiknya menyesali keputusan yang sudah diambil. Kalau saya merasa ini jalan yang salah, saya hanya harus berusaha mencari cara agar bisa kembali ke jalur yang benar. Saat itu saya hanya sampai pada pemikiran itu saja, namun sudah cukup untuk mengurungkan niat ikut SNMPTN.

Allah menghadiahi keputusan saya bertahan dengan mengabulkan do’a orang tua saat memilih UGM. Setelah proses panjang sekitar 6 bulan, saya menerima beasiswa kuliah sampai tamat dari sebuah foundation. Beasiswa ini sangat prestisius saat itu, karena selain nilai beasiswanya termasuk paling besar, juga karena sangat sulit bahkan untuk lolos di seleksi awal. Persyararatan yang ditetapkan memang sangat tinggi, dan saya mengucap syukur karena nilai SMA saya sangat baik (semester 1 saat mengajukan aplikasi saya belum punya IP).

Akhirnya saya bertahan di UGM dan melupakan niat pindah. Tapi bukan berarti saya sudah menerima sepenuhnya bahwa menjadi farmasis adalah jalan hidup saya. Saya tetap merasa lebih nyaman menulis tentang hubungan luar negeri Indonesia, masalah perbatasan yang selalu konflik, atau mengikuti pergerakan saham-saham di bursa utama dari pada memelototi tulisan-tulisan tentang perkembangan sel kanker, tentang bagaimana ranitidine menghambat eksresi asam lambung.

Sampai semester empat pun saya menjalani kegiatan perkuliahan dengan keadaan seperti itu. Nilai saya sudah lebih baik jika dibandingkan saat semester 1, tapi tetap tidak mencapai level istimewa. Bahkan seringkali hanya pas-pasan untuk membuat beasiswa saya tidak dicabut. Saya di kampus farmasi juga hanya sekedar untuk kuliah dan praktikum, selebihnya di luaran.

Semuanya berlansung seperti itu hingga akhirnya saya dinominasikan menerima penghargaan untuk peneliti muda tingkat Asia, untuk sebuah tulisan saya yang lagi-lagi bukan tentang kesehatan. Meskipun pada akhirnya saya tidak menang, tapi peristiwa ini lah yang membuat saya akhirnya mampu membuka mata secara sempurna.

Ketika menunggu pengumuman pemenang penghargaan tersebut, saya ngobrol dengan beberapa calon penerima penghargaan lainnya, salah satunya dari Thailand bernama Sang Cho Kun (bukan asli Thailand kayaknya). Biasalah ngebahas banyak hal termasuk latar belakang masing-masing. Dan begitu tahu saya belajar di farmasi dan bukannya ilmu sosial dia bilang, “ You’re great, you’re pharmacist but know a lot ‘bout political science. Might better to me learn something new, just like you”

Saat itu lah saya sadar, bahwa betapa selama ini saya buta, bahwa Allah itu sebenarnya sudah memilihkan jalan terbaik buat saya. Perasaan seringkali memang mengalahkan logika. Ketertarikan utama saya adalah di politik dan hukum, serta ekonomi, tapi Allah menakdirkan saya harus kuliah di farmasi. Saya belajar di farmasi, tapi ketertarikan saya pada ilmu-ilmu sosial tersebut membuat saya berusaha sendiri supaya bisa memahaminya. Tidak ada hari-hari yang saya lewati tanpa membuka berita tentang kondisi politik ataupun pergerakan bursa saham. Sudah tak terhitung waktu yang saya habiskan di perpustakaan menekuri buku-buku politik atau manajemen. Kenapa, karena saya tertarik padanya.

Sekarang andai saja saya dulu memilih kuliah di Hubungan International, tidak akan pernah mungkin saya mencoba belajar tentang obat-obatan. Paling mentok mungkin saya membaca label di kotak obat dan mencarinya di internet supaya tidak salah pakai. Tidak akan saya tahu kenapa promag itu harus dikonsumsi sebelum makan dan dikunyah bukannya diminum. Tidak tertarik mengetahui bagaimana prosesnya tanaman kunyit bisa jadi agen kemoterapi. Tidak akan pernah mungkin.

Setelahnya sampai hari ini dan Insya Allah seterusnya, saya tidak pernah lagi menyesali keputusan-keputusan yang sudah saya ambil. Bahkan kalaupun pada akhirnya keputusan itu terbukti salah, saya hanya perlu mencari alasan pembenaran darinya, bukan yang dibuat-buat tentunya. Seperti kata-kata klise, “Sudahlah, kita ambil saja hikmahnya.” Namun, tidak cukup hanya sampai menemukan hikmah, kita juga harus mengusahakan cara untuk kembali ke jalan yang benar.

Tuhan berada di balik setiap keputusan yang kita buat, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.  Insya Allah saya tidak lagi menyesali kenapa saya dulu memilih farmasi, bahkan meskipun nanti saya tidak berkerja sebagai farmasis misalnya. Saya sudah memperoleh ilmu yang sangat banyak, dan hina sekali kalau saya tidak mensyukurinya.

Tapi bukan berarti tidak boleh memilih jalan lain. Kalau sadar salah jurusan di awal, sah-sah saja jika ingin mengulang test masuk lagi tahun depannya, asalkan dengan alasan yang kuat. Tapi jika sudah lebih dari satu tahun, mungkin niat mengulang harus dipikirkan lagi matang-matang karena terlalu banyak waktu yang terbuang. Tidak ada salahnya berusaha mencintai yang sudah dijalani, sambil mencari jalan yang lebih baik supaya tetap sampai ke tujuan. Bukan dengan kembali ke belakang, tapi mencari gang-gang kecil yang bisa mengantarkan ke jalur utama. Jalan buatan manusia saja punya banyak cabang dan jalan tikus, apalagi jalan yang diciptakan Allah.

One comment

  1. Pingback: Are You In The Wrong Job? | find everything here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: