Dahaga Di Tengah Genangan Air

Air merupakan unsur vital dalam kehidupan manusia yang cenderung berkurang ketersediaannya dari waktu ke waktu. Jacques Diouf, mantan Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), menyatakan bahwa terjadi kelangkaan air yang harus ditanggung oleh lebih dari 40 persen warga bumi. Kondisi ini akan kian parah menjelang tahun 2025 karena 1,8 miliar orang akan tinggal di kawasan yang mengalami kelangkaan air secara absolut. Tanpa akses air minum yang higienis, 3.800 anak meninggal tiap harinya oleh penyakit. Begitu peliknya masalah ketersediaan air ini sehingga Perserikatan Bangsa – Bangsa  mendeklarasikan bahwa ketersediaan air adalah hak asasi manusia. (The Jakarta Post, 29 Juli 2010)

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumber daya air. Ketersediaan air di Indonesia mencapai 15.500 meter kubik per kapita per tahun, jauh di atas ketersediaan air rata-rata di dunia yang hanya 8.000 meter kubik per tahun. Meskipun begitu, Indonesia masih saja mengalami kelangkaan air bersih. Pada tahun 2007 warga Indonesia yang bisa mengakses air bersih baru mencapai 20 persen dari total warga. Itupun yang dominan adalah akses untuk perkotaaan. Artinya masih ada 82 persen rakyat Indonesia terpaksa mempergunakan air yang tak layak secara kesehatan. (Kompas 12 Maret 2008)

Selama puluhan tahun Indonesia telah melakukan pembangunan dalam sektor air. Akan tetapi sampai saat ini tingkat pelayanan air melalui sistem perpipaan yang relatif paling aman dibanding sistem lain secara nasional baru mencapai 41% untuk warga perkotaan dan 8% untuk warga pedesaan. Tidak heran bila menurut para pengamat, Indonesia terancam gagal untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) dalam hal ketersediaan air dan sanitasi. (The Jakarta Post, 5 Oktober 2009)

Penyebab rendahnya akses warga ke sumber air yang bersih ada bermacam – macam. Salah satunya adalah kondisi topografi wilayah yang umum terjadi di daerah perbukitan atau pegunungan. Hal tersebut terjadi misalnya di desa Sidoharjo yang terletak di Pegunungan Menoreh, Yogyakarta. Desa ini memiliki banyak mata air, air terjun, dan sungai yang terus mengalir sepanjang tahun, namun sekitar 37 % warganya belum mendapatkan akses ke sumber air karena wilayah pemukiman berada lebih tinggi dari sumber air. Akibatnya warga, yang muda maupun yang tua renta, terpaksa harus mengambil air dengan jerigen dan mengangkutnya sampai ke rumah.

Berbicara pelestarian air bersih tidak bisa hanya semata keberadaan sumber air bersih saja. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pelestarian berarti upaya pengelolaan sumber daya alam yang menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya. Ini jelas bahwa tidak semata-mata ada itu bisa disebut lestari, tapi baru bisa dikatakan lestari bila masyarakat bisa memanfaatkannya juga.

Sepintas lalu mungkin keadaan warga di Pegunungan Menoreh ini tidak lebih parah bila dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di pegunungan berbatu kapur di Gunung Kidul, sebab bagaimanapun juga mereka masih memiliki sumber air. Namun bila melihat perjuangan warga yang harus berjalan mendaki lereng untuk membawa beberapa liter air tetap saja akan membuat hati terenyuh. Apalagi kebanyakan dari mereka justru orang-orang yang sudah berusia lanjut.

Solusi paling mudah adalah pompa air. Namun menjadi tidak mudah bagi mereka karena warga di sana kebanyakan adalah petani yang hidupnya pas-pasan atau malah di bawah garis kemiskinan. Jangankan untuk membeli pompa air yang harganya jutaan,  untuk makan dan sekolah anak-anaknya saja mereka seringkali mengalami kesulitan.

Bantuan pompa dari pemerintah, atau pihak-pihak lain rasanya juga bukan solusi yang bisa diterima. Sekali lagi masyarakat di sana adalah warga miskin, sedangkan maintenance pompa relatif mahal, apakah itu pompa listrik ataupun tenaga diesel yang membutuhkan bahan bakar. Memberikan pompa listrik atau diesel sama saja dengan membebani perekonomian keluarga mereka dan menyelesaikan masalah dengan masalah. Bisa-bisa pompa itu hanya dipakai selama beberapa minggu atau satu bulan saja, dan setelahnya mereka kembali lagi ke kebiasaan lama. Yang mereka butuhkan adalah solusi yang benar-benar bebas biaya, atau kalaupun membutuhkan biaya tidak banyak atau tidak membebani masyarakat.

Salah satu jenis teknologi yang dapat memenuhi persyaratan tersebut adalah pompa hidram. Pompa hidraulik ram (hidram) memanfaatkan tenaga aliran air yang jatuh dari tempat suatu sumber dan sebagian dari air itu dipompakan ke tempat yang lebih tinggi. Sebagaimana diketahui, air menyimpan energi potensial sekaligus energi kinetik yang besar, energi-energi yang dimilikinya inilah yang akan dijadikan sumber tenaga penggerak dari pompa. Pompa hidram ini tidak membutuhkan bahan bakar atau tambahan tenaga dari sumber lain, tidak membutuhkan pelumasan, sederhana, biaya pembuatannya serta pemeliharaannya murah dan tidak membutuhkan ketrampilan. Dan pompa ini dapat bekerja dua puluh empat jam per hari.

Sumber energi pompa berasal dari tekanan dinamik atau gaya air yang timbul karena perbedaan ketinggian dari sumber air ke pompa. Gaya tersebut akan dipergunakan untuk menggerakkan katup sehingga diperoleh gaya yang lebih besar untuk mendorong air ke atas. Penggerak mula pompa hidram menggunakan energi akibat dari adanya perbedaan ketinggian permukaan air sumber dengan kedudukan pompa.

Persyaratan penerapan pompa hidram yang pertama adalah tersedianya air baku yang cukup dan kontinu, tinggi terjunan air terhadap kedudukan pompa terpenuhi, tinggi lokasi yang akan dihantar dari kedudukan pompa proporsional, kemiringan daerah yang akan dihantar. Dan syarat-syarat ini sangat cocok untuk daerah-daerah dengan kemiringan tinggi seperti pegunungan.

Teknologi ini bukan lagi sekedar teori, karena saya sendiri sudah pernah menerapkannya di salah satu desa di wilayah Pegunungan Menoreh, dan berhasil dengan baik. Bahan-bahan pembuatannya relatif murah, karena sebagian besar menggunakan barang-barang bekas layak pakai seperti pipa-pipa dan pompanya. Sementara untuk pondasi dan bangunan pompanya sendiri dibangun bersama-sama oleh warga secara bergotong-royong. Mereka sadar bahwa tidak selamanya mereka bisa menggantungkan harapan pada pemerintah atau pemangku kebijakan. Bukan karena tidak percaya dengan pemerintah, tapi karena menyadari bahwa yang bermasalah bukan hanya kampung mereka, tapi ada banyak daerah-daerah lain dengan masalah yang mungkin lebih kompleks. Selain itu mereka juga sadar bahwa nasib dan masa depan daerah mereka berada di tangan mereka sendiri, bukan di tangan pemerintah atau para dermawan dan bukan juga di tangan mahasiswa KKN yang rutin mengunjungi daerah mereka setiap tahunnya.

Pegunungan Menoreh hanyalah potret ironi satu wilayah Indonesia, masih sangat banyak daerah-daerah lain yang memiliki masalah yang sama, atau bahkan lebih kompleks. Selama ini kita sering dilenakan oleh pernyataan Indonesia itu negeri yang kaya dengan kekayaan alam yang berlimpah ruah. Sebuah ironi melihat kenyataan masih banyak rakyat Indonesia yang hidup jauh dari sekedar layak. Ironi jika melihat kekayaan yang kita bangga-banggakan itu berdampingan dengan kemiskinan, ketiadaan dan kepapaan. Masyarakat daerah tambang hanya bisa melihat orang asing menyedot setiap jengkal tanah mereka tanpa mereka sendiri menikmati hasilnya, warga di sekitar hutan kesulitan untuk sekedar memasuki warisan leluhur mereka sendiri, dan masyarakat yang kekeringan serta kehausan justru hidup di pegunungan di mata segala mata air dan sungai-sungai berasal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: