Blackberry: Dipuja, Ditinggalkan dan Reformasi #BBBaru

Blackberry merupakan perangkat telepon seluler produksi Research in Motion (RIM). Meskipun terbilang pemain baru di dunia telekomunikasi, namun perkembangan RIM dan blackberry sangat mengejutkan dan mampu menggerus pasar-pasar vendor terkemuka seperti Apple dan Nokia. Salah satu penyebabnya adalah inovasi yang ditawarkan, yaitu adanya layanan Blackberry Messenger (BBM) yang membuat sesama pengguna Blackberry dapat bertukar pesan instan tanpa mengeluarkan biaya khusus seperti pada Short Message Services (SMS). Saat itu bisa dibilang BBM adalah satu-satunya aplikasi chatting atau mengirim pesan yang menggunakan jaringan internet sebagai basisnya. Apalagi untuk BBM tidak menggunakan nomor handphone, tapi sebuah kode unik yang lazim disebut Personal Identification Number (PIN).

Meskipun Blackberry sudah masuk ke pasar Indonesia sejak 2004, namun baru benar-benar dikenal dan digilai pasar saat tahun 2008-2009. Pada rentang waktu ini pertumbuhan pengguna Blackberry benar-benar pesat, jauh mengalahkan pengguna iPhone dan smartphone lainnya. Selain karena harganya relatif lebih murah, terutama bila dibandingkan besutan Apple, aplikasi BBM benar-benar sukses menarik minat konsumen.

Pada awalnya pengguna Blackberry, seperti juga pengguna smartphone lainnya, adalah kalangan business man. Namun seiring perjalanan waktu terjadi pergeseran dari yang awalnya smartphone sebagai mitra bisnis menjadi gaya hidup. Dampaknya, penggunanya tidak lagi sebatas para pekerja dan pengusaha, tapi pelajar dan mahasiswa, anak muda malah menjadi konsumen terbesarnya.

Saat itu saya sedang berada di tahun kedua universitas, sedang dalam masa-masa pencarian jati diri. Tapi untungnya saat ini saya tidak terbawa suasana, meskipun sudah cukup banyak teman-teman saya yang menggunakannya. Saya merasa tidak tertarik karena sangat paham bahwa Blackberry itu tidak terlalu saya butuhkan. Satu-satunya keunggulan yang benar-benar saya rasakan adalah fasilitas BBM, sementara sebagian besar kenalan saya, yang notabene juga mahasiswa, masih menggunakan SMS sebagai sarana utama komunikasi. Jadi kebutuhan Blackberry tidak relevan dengan aktifitas saya saat itu. Prinsip saya, saya akan membeli suatu barang sesuai kebutuhan,bukan sekedar keinginan apalagi ikut-ikutan.

Namun hal ini hanya bertahan sampai akhir 2010. Pada awal 2011 saya mulai mencoba bergabung di sebuah perusahaan meskipun belum lulus. Kebetulan saya bekerja menangani project di lapangan yang mengharuskan sebagian besar waktu saya dihabiskan di luar kantor, dan waktu untuk bertemu dengan bos serta tim sangat terbatas. Oleh karenanya, atasan menginstruksikan setiap anggota tim harus memiliki Blackberry sebagai sarana komunikasi, karena di BBM bisa dibikin grup khusus yang anggotanya adalah tim tersebut, sehingga setiap instruksi ataupun laporan tidak resmi bisa lansung di-share di grup dan tidak harus mengirim pesan ke setiap personal.

Mau tidak mau saya akhirnya menggunakan Blackberry, di dukung oleh operator seluler yang sudah saya gunakan sejak pertama memiliki handphone, XL. Dan memang, pekerjaan saya jadi sangat terbantu sekali. Bukan hanya komunikasi dengan atasan dan tim yang menjadi terbantu, tapi komunikasi dengan klien juga menjadi lebih mudah. Karena kebanyakan orang lebih memilih berkomunikasi menggunakan BBM yang tidak harus menyertakan nomor handphone, bila harus bekerja dengan orang yang sebelumnya belum pernah ditemui atau belum begitu dikenal.

Blackberry akhirnya juga membantu saya dalam pekerjaan lainnya, layanan push-mail dan akses ke internetnya yang menggunakan jaringan sendiri selain milik operator selulernya sehingga lebih cepat dibanding rata-rata handphone lain yang saat itu saya miliki.

Namun karena memang dari awalnya saya meniatkan Blackberry itu untuk urusan pekerjaan, saya sama sekali tidak menggunakannya untuk keperluan lain seperti pertemanan. Saya tetap menyembunyikan fakta dari teman-teman saya kalau sebenarnya saat itu saya juga menggunakan Blackberry. Tidak ada kenalan di luar urusan pekerjaan di contact list saya, bahkan saya tidak menggunakan Blackberry untuk mengakses jejaring sosial yang saya miliki, karena memiliki resiko ketahuan.

Saya tidak mau ketahuan bukan karena apa-apa, tapi hanya tidak mau mencampur adukkan urusan pekerjaan dengan pribadi. Apalagi kalau pada akhirnya Blackberry saya terus-terusan berbunyi saat sedang bekerja, dan ternyata itu ‘hanya’ broadcast message yang sangat tidak penting. Kalau memang ada urusan penting, toh dari dulu juga sudah biasa berkomunikasi menggunakan telepon atau SMS.

Beberapa lama menggunakan Blackberry saya juga merasakan masalah-masalah yang dikeluhkan oleh teman-teman saya sebelumnya, terutama BBM yang sering pending. Saya yakin bukan operator selulernya yang bermasalah, karena di smartphone yang lainnya saya juga menggunakan operator XL, tapi sama sekali tidak mengalami masalah. Berarti memang ada yang salah dengan blackberry-nya.

Satu hal yang saya sukuri dari tidak memberitahu teman-teman keberadaan Blackberry saya, saya tidak mendapat masalah lanjutannya. Mulai dari broadcast message yang tidak penting, sampai penyebaran berita hoax ataupun virus. Saya juga tidak harus terus-terusan mengecek handphone saya apalagi saat sedang bekerja.

Dan karena memang dari awal diniatkan memang untuk memudahkan urusan pekerjaan, begitu pada tahun 2012 saya akhirnya memutuskan resign dan kembali fokus ke Tugas Akhir (TA), saya meninggalkan Blackberry kembali. Saya lebih nyaman menggunakan smartphone android seperti yang saat ini saya gunakan (sebenarnya mau iphone sih, tapi belum mampu beli :p). Apalagi juga sudah ada aplikasi chatting yang tidak kalah menarik dari BBM seperti whatsapp ataupun line.

Dan saya bukan satu-satunya orang yang berpindah dari Blackberry menggunakan perangkat lain. Sangat banyak yang mengeluhkan layanan Blackberry, dan ini sangat besar kemungkinannya karena pihak RIM tidak mau memindahkan servernya ke Indonesia padahal pengguna Blackberry di Indonesia sangat besar, sehingga layanannya sering terganggu. Meskipun pilihan RIM untuk tidak membangun server baru juga bisa dimaklumi sebab RIM sendiri sedang mengalami kemerosotan sehingga mereka lebih memilih mengoptimalkan server yang sudah ada alih-alih membangun baru.

Tapi kalau dikasih gratis sih saya ga bakalan nolak. Dan kalau dikasih gratis kan pada akhirnya saya ga terlalu malu untuk mengakui kalau saya udah punya Blackberry, karena selama ini teman-teman taunya saya paling anti menggunakan Blackberry, (haha). Selain itu saat ini saya sedang menunggu wisuda dan siap masuk ke dunia kerja, sehingga Blackberry akan kembali saya butuhkan.

Selain itu belakangan Blackberry juga berusaha membenahi perusahaan dan layanannya kembali. Blackberry mereformasi perusahaannya, termasuk dengan mengganti nama perusahaan Research in Motion menjadi Blackberry sehingga lebih familiar di tengah masyarakat sebagai produsen Blackberry. Selain itu peluncuran Operating System (OS) baru Blackberry 10 juga disebut-sebut bisa menandingi OS besutan Apple, Google (android) ataupun Windows Phone. Sehingga sekarang semuanya benar-benar tergantung layanan pasca jual Blackberry dan ketangguhan jaringannya. Karena meskipun perusahaan direformasi, OS diganti dengan yang lebih baik, tapi kalau jaringan tetap sering mengalami gangguan pada akhirnya pelanggan tetap akan pergi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: