Bersinar Di Masa Lalu, Suram Menatap Masa Depan

Indonesia pernah punya nama besar di lapangan bulutangkis dunia. Seperti dalam tulisan saya sebelumnya, berbagai rekor sudah pernah ditorehkan Indonesia, dan banyak pebulutangkis Indonesia yang sudah mencatatkan namanya dengan tinta emas sejarah bulutangkis dunia.

Namun nama besar itu sekarang sudah meredup, bahkan terancam dilupakan dalam beberapa tahun mendatang bila tidak segera diambil langkah perbaikan besar-besaran. Hal ini bisa dilihat dari minimnya prestasi Indonesia terutama tiga tahun belakangan. Indonesia dihantam dominasi China di turnamen-turnamen besar dunia, dan kalah dari negara-negara seperti Korea, Jepang bahkan Thailand. Tahun 2012, untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia tidak membawa pulang emas bulutangkis di Olimpiade, bahkan tidak ada satupun medali dari cabang bulutangkis. Di turnamen kebanggaan bangsa, Indonesia Open Super Series Premiere, Indonesia juga tidak mampu menunjukkan keperkasaan, bahkan di Indonesia Open 2013 hampir saja Indonesia malu karena hanya mampu menempatkan satu wakil di final, dan untung saja pasangan ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan tersebut mampu menyabet gelar juara dan menyelamatkan muka Indonesia. Di Singapore Open Super Series 2013 memang Indonesia mampu membawa tiga gelar juara, Tunggal Putra, Ganda Putra dan Ganda Campuran, tapi itu tidak terlepas dari banyaknya pemain unggulan yang absen di turnamen tersebut.

Rasa pesimis ini semakin terlihat bila melihat prestasi pebulutangkis junior Indonesia. Harapan masa depan bulutangkis Indonesia itu justru menunjukkan prestasi yang jauh lebih buruk, diulangi JAUH LEBIH BURUK, dari senior-seniornya. Meskipun tidak ada yang menjadi peringkat satu dunia, tapi masih cukup banyak pebulutangkis senior Indonesia di jajaran 10 besar, apalagi 25 dan 50 besar. Berdasarkan data BWF 7 Agustus 2013, ganda campuran masih menjadi andalan Indonesia dan terdapat 5 wakil Indonesia di 10 besar dunia, dengan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di ranking 2 dunia. Tunggal Putra Indonesia, Tommy Sugiarto berada di ranking 8 dunia dan tepat dibawahnya ada nama Sony Dwi Kuncoro, dan masih ada 4 nama lainnya di daftar 50 dunia.

Ganda Putra andalan Indonesia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan berada di peringkat tertinggi ranking 5 dunia, dan ini sangat baik mengingat mereka belum satu tahun dipasangkan, peringkat Ahsan/Hendra juga dipastikan naik lagi melihat hasil positif di World Championships 2013 yang tengah berlansung. Angga Pratama/Ryan Agung Saputra juga di 10 besar dunia dan ada 5 nama lainnya di 50 besar dunia, dengan sebagian besarnya di posisi 25 terbaik.

Pemain putri Indonesia memang tidak seperkasa pemain putra. Tidak ada pemain tunggal putri di peringkat 10 terbaik dunia, tetapi ada 7 nama di daftar 50 besar. Ganda Putri terbaik Indonesia, Pia Zebadiah/Rizky Amelia berada di peringkat 6 dunia, dan ada 5 nama lainnya di 50 besar dunia.

Singkatnya, masih cukup banyak pemain Indonesia yang patut diperhitungkan, meski kalah jauh dibandingkan China.

Tapi hal yang sama tidak ditemui di peringkat dunia junior. Masih dari sumber yang sama, BWF, terlihat prestasi pemain Indonesia sangat jauh dari kata baik. Tunggal Putra misalnya, peringkat terbaik adalah 22 dan hanya 2 nama di posisi 50 besar dunia. Tunggal Putri meskipun mampu menempatkan satu nama di peringkat 5 dunia, tapi pemain terbaik setelahnya berada di posisi 46. Ganda Putra sedikit lebih baik dengan satu wakil di posisi 2 dunia dan 4 orang lainnya mengisi 50 besar.

Berikut adalah print screen dari halaman-halaman situs resmi BWF

Tunggal Putra

Boy's Singles

Tunggal Putri

Girl's Singles

Ganda Putra

Boy's Doubles

Ganda Putri hanya mampu menempatkan satu nama di 50 besar dunia, yaitu peringkat 15, sedangkan ganda campuran yang saat ini menjadi andalan tim senior, bahkan tidak dapat menempatkan satupun wakil di 200 dunia. Peringkat terbaik adalah 214 di daftar BWF Junior Ranking. Tidak ada bibit-bibit baru yang diharapkan bakal menggantikan nama-nama seperti Liliyana Natsir, Tontowi Ahmad, Muhammad Rijal, Debby Susanto dll.

Ganda Putri

Girl's DoublesGanda Campuran

Mix Double

Sudah sejak beberapa tahun terakhir banyak pengamat dan juga atlet serta mantan atlet mengingatkan jajaran pengurus Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) untuk mengedepankan regenerasi alih-alih mengejar jumlah medali. Perolehan gelar dan medali tentu saja penting, tapi regenerasi juga sangat penting. Namun pengurus PBSI sepertinya tidak terlalu mengindahkan, terbukti masih diturunkannya pemain-pemain utama di turnamen-turnamen yang harusnya diikuti oleh pemain-pemain baru, dengan harapan bisa membawa pulang banyak gelar. Akibatnya, pemain-pemain baru kehilangan kesempatan untuk menambah pengalaman dan meningkatkan poin.

Pergantian pengurus pada akhir 2012 sedikit membawa angin segar, terutama dengan masuknya tiga mantan juara dunia kebanggaan Indonesia, Rexy Mainaky, Ricky Subagja dan Susi Susanti ke jajaran pengurus, dan ditempatkan di bidang yang berurusan lansung dengan pembinaan pemain. Selain itu kebijakan pengurus untuk menawarkan kontrak bulanan kepada pemain, serta memperbolehkan pemain menerima sponsor sendiri diharapkan membawa perubahan yang baik, terutama terhadap pemain sendiri karena sekarang mereka sendirilah yang menentukan masa depan mereka. Bermain bagus maka akan banyak sponsor dan bonus yang didapatkan, dan sebaliknya.

Harapan kita tentunya hal ini segera mendapat perhatian dan tindakan dari pengurus. Bulutangkis adalah olahraga kebanggaan Indonesia, dan mungkin bisa dikatakan satu-satunya olahraga yang bisa membuat kita membusungkan dada saat mengucapkannya. Berbagai prestasi dan rekor pernah dituliskan untuk Indonesia, dan jangan sampai itu hanya menjadi sekedar kenangan manis saja. Atau lama-lama menjadi dongeng pengantar cucu para kakek-nenek, saat akan menidurkan cucu-cucu mereka di masa depan.

#AyoKitaBisa

tambahan:

Harapan itu semakin terlihat dengan keberhasilan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan membawa pulang 2 gelar juara dunia, Badminton World Championships 2013, dari China. Dan dari 6 gelaran turnamen Super Series di semester pertama 2013, Korea Open di awal Januari 2013 adalah satu-satunya turnamen yang Indonesia tidak berhasil membawa pulang gelar juara, bahkan di turnamen terakhir, Singapore Open Super Series 2013, Indonesia mendominasi dengan mengumpulkan tiga juara, Tunggal Putra Tommy Sugiarto, Ganda Putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Ganda Campuran Tontowi Ahmad Liliyana Natsir. Dan semakin jelas lagi dengan keberhasilan di Badminton World Championships 2013 yang berakhir beberapa jam lalu

Untuk catatan emas sejarah dan keberhasilan pebulutangkis Indonesia, silakan buka tautan https://alfathirahmat.wordpress.com/2013/04/23/bulutangkis-milik-indonesia/

*Tetap Dukung Bulutangkis Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: