Tes Keperawanan? Jawab Dulu Pertanyaan Ini

Sebenarnya ini bukan isu baru, beberapa tahun lalu wacana untuk memberlakukan tes keperawanan di sekolah-sekolah pernah mengemuka di beberapa daerah, namun akhirnya batal digelar karena kerasnya penolakan masyarakat.

Alasan utama pihak sekolah dan pemerintah daerah mengajukan rencana tes keperawanan di sekolah-sekolah, atau syarat untuk mendaftar disebuah sekolah adalah karena pergaulan di kalangan remaja yang sudah kelewat bebas, dan juga maraknya prostitusi. Fakta yang diajukan memang mungkin tidak bisa kita elakkan, bahwa kenyataannya mungkin tidak jauh berbeda dari dilapangan. Namun yang saya soroti disini adalah apa pentingnya mengadakan tes keperawanan ini.

Pertama, yang mengajukan dan akan mengadakan tes keperawanan ini adalah sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan. Kita andaikan tes ini jadi dilaksanakan dan didapat sejumlah siswi misalnya tidak lolos tes atau sudah tidak perawan lagi. Lalu setelahnya bagaimana, apa sanksi yang paling tepat diberikan untuk mereka?

Kalau tes dilakukan sebagai syarat penerimaan siswa baru, berarti sudah sangat pasti calon siswa tidak akan diterima. Bila kita lihat kembali kondisi awal dilakukan tes ini, maka akan terlihat hal yang sangat bertentangan. Bila tidak lolos tes maka jelas akhirnya dia tidak bisa melanjutkan sekolah, dan kurangnya pendidikan serta jiwa yang masih labil akan menyeret mereka ke pergaulan bebas dan prostitusi. Bukannya menyelesaikan masalah, pada akhirnya hanya akan memperbesar masalah yang sudah ada dan juga menambah masalah baru. Kondisi yang sama bila dilakukan pada siswi-siswi disekolahan, karena kemungkinan besar akan drop out lalu putus sekolah.

Yang kedua adalah prinsip keadilan. Yang melakukan seks pranikah di usia muda bukan cuma cewe, perempuan tapi juga cowo atau laki-laki. Bahkan seorang perempuan tidak akan bisa melakukan aktifitas seksual lalu kehilangan keperawanan tanpa adanya laki-laki. Lalu bagaimana dengan yang laki-lakinya? Apakah akan ada tes keperjakaan juga.

Jawabannya sudah jelas saya rasa, tidak (belum) ada metode pengujian yang dapat membuktikan seseorang masih perjaka atau tidak.

Saya bukan dalam konteks menolak atau mendukung tes absurd ini. Tapi selama dua pertanyaan saya diatas belum bisa dijawab, maka saya jelas tidak setuju dilakukannya tes tersebut. Ini belum lagi bila kita membahas tentang norma sosial dan yang lainnya, membiarkan tim penguji melihat, menyentuh bahkan mengobok-obok wilayah yang paling pribadi dari seorang wanita. Tidak, saya tidak akan mempertanyakan sampai disana, cukup berikan penjelasan pada dua pertanyaan awal saya saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: