Film Indonesia vs Film Impor

Hari ini saya mengajak seorang teman menonton pemutaran perdana film Sokola Rimba besutan rumah produksi Miles Film di salah satu bioskop di kota tempat saya tinggal saat ini. Belajar dari pengalaman saya menonton film (calon) populer sebelumnya, di hari pertama pemutaran pasti yang antri sangat banyak, maka saya datang ke mall tempat bioskop tersebut berlokasi satu jam sebelum waktu bioskop buka. Namun ternyata keadaan di sana tidak sesesak yang saya duga, sehingga kami memutuskan untuk makan dulu di foodcourt mall tersebut.

Sambil makan, biasalah ya ngobrol. Ternyata teman saya tersebut hampir tidak pernah menonton film Indonesia di bioskop, alasannya karena menunggu tiga atau empat bulan lagi film tersebut pasti udah nongol di TV. Emang ga salah sih alasannya, tapi ya masa karena itu terus ga mau menonton film Indonesia di bioskop.

Tapi memang sih ya, dibanding beberapa tahun lalu, film sekarang memang relatif jauh lebih cepat tayang di televisi. Seingat saya dulu, butuh sekitar enam bulan sampai setahun sejak filmnya tayang di bioskop sebelum VCD/DVD-nya dirilis, dan butuh sekitar enam bulan sampai setahun lagi setelahnya baru film itu diputar di layar kaca. Sekarang, ada yang hanya berjarak empat bulan sejak premiere di bioskop, film tersebut sudah wara wiri di televisi, sedangkan DVD-nya baru akan dirilis lama setelahnya, itupun kalau ada.

Saya sendiri kalau disuruh memilih antara film lokal dan film luar negeri, maka saya akan mendahulukan film buatan anak negeri sendiri, asal memang bagus. Misalnya ada film produksi anak negeri dan film Hollywood dirilis dalam waktu bersamaan, dan keuangan saya hanya cukup untuk menonton satu saja, maka saya akan memilih film Indonesia meskipun film Hollywood-nya juga sangat bagus. Alasannya sederhana, bukan sok nasionalis, tapi jika saya tidak menonton film Hollywood maka masih ada ribuan bioskop di puluhan negara lain yang siap memutarnya, sedangkan bila saya (anak Indonesia) tidak menonton film nasional, maka siapa lagi yang akan menontonnya.

Apalagi sekarang film Indonesia bukan lagi film kelas murahan. Masih ada memang film yang menurut saya film sampah, tapi sudah cukup banyak film bagus, dengan cerita yang digarap serius dan teknologi mutakhir di industri perfilman Indonesia. Tapi ini sama saja dengan industri film asing, di sana pasti juga ada film bagus dan film jelek, hanya saja yang sampai ke bioskop kita film yang masuk kategori bagus, karena pengusaha bioskop pasti merasa tidak ada juga gunanya mengimpor film yang sudah jelas tidak akan laku.

Indonesia juga sudah punya banyak sutradara-sutradara berbakat atau penulis-penulis skenario berkualitas, ataupun bagian lainnya di industri film. Lagi pula, kalau kita berharap film Indonesia bisa sebagus film luar tetapi tidak mau menyumbang sekedar tiket bioskop, maka bagaimana bisa harapan kita akan terkabul. Kita berharap film maker Indonesia bisa menghasilkan karya yang bagus, dan mereka hanya bisa memenuhi harapan kita kalau kita bersama mendukungnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: