Belajar dari Hatta

Sulit memilih mana yang paling saya kagumi dari sosok seorang Mohammad Hatta, atau yang juga dikenal dengan sebutan Bung Hatta, apakah kecerdasannya, keteguhan hatinya, kesederhanaannya atau kecintaannya kepada tanah air. Buat saya, Proklamator sekaligus Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama itu benar-benar seorang Bapak Bangsa sejati. Dan meski saya mengagumi mereka berdua (terutama sebagai pasangan Dwitunggal) dan tanpa mengurangi rasa hormat, dengan beberapa alasan saya lebih mengidolai Bung Hatta dibanding Bung Karno.

Sumpah Palapa Gadjah Mada mungkin adalah sumpah paling terkenal di Indonesia. Demikian cintanya Gadjah Mada kepada negaranya dan tanah airnya, sampai dia bersumpah tidak akan mengecap kesenangan sebelum berhasil menyatukan nusantara di bawah panji Majapahit. Sumpah yang akhirnya berhasil dia buktikan, bahkan melebihi keinginannya semula, karena di masa kejayaannya kekuasaan Majapahit bahkan sampai ke daerah Champa, atau kira-kira di daerah Myanmar dan Vietnam sekarang.

Bung Hatta juga pernah mengucapkan sumpah yang kurang lebih berarti sama, yaitu bahwa dia tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Baginya, Indonesia adalah di atas segalanya, bahkan kesenangannya sendiri. Dan janjinya itu terus dipegangnya. Sekedar mengingatkan, Mohammad Hatta baru menikah 18 November 1945 atau tiga bulan setelah beliau dan Soekarno mengumandangkan kemerdekaan Indonesia mewakili seluruh rakyat Indonesia, dalam usia 43 tahun. Dan mengingatkan juga, bahwa yang mencarikan istri dan juga melamarkan untuknya adalah Soekarno, sementara Bung Hatta sendiri tetap belum memikirkannya.

Kecerdasan Mohammad Hatta mungkin yang paling tidak perlu saya tuliskan di sini, karena saya rasa semua sudah mengetahuinya. Pemikiran-pemikirannya untuk bangsa ini sudah sangat banyak, diantaranya adalah koperasi yang sampai sekarang masih menjadi salah satu penopang perekonomian rakyat Indonesia. Dan jangan lupa juga bahwa naskah proklamasi awalnya dikonsep oleh Bung Hatta sebelum disempurnakan oleh Bung Karno.

Hatta adalah pribadi yang sangat sederhana, mungkin kembali lagi karena kecintaannya kepada tanah air, sehingga dia merasa malu untuk bermewah-mewahan sementara negaranya dan saudara-saudara sebangsanya masih kesusahan. Sedih rasanya mengingat seorang Wakil Presiden di negara sebesar Indonesia sampai akhir hayat menyimpan sobekan iklan sepatu yang tidak mampu dibelinya. Sesak membayangkan sosok yang berkontribusi lansung pada kemerdekaan negeri ini mengeluh kepada anak istrinya takut tidak mampu membayar tagihan rekening listrik dan PAM. Kesederhanaan itu juga yang membuatnya berpesan agar dimakamkan di TPU Tanah Kusir bersama-sama rakyat ‘biasa’ Indonesia lainnya, daripada bersama-sama para pahlawan di TMP Kalibata.

Dari beberapa yang disebutkan di atas saja, coba bandingkan dengan kelakuan para ‘pemimpin bangsa’ kita saat ini. Hatta menuliskan pemikiran-pemikirannya demi kemajuan bangsa, sementara beberapa wakil kita di parlemen saat ini berusaha mereduksi beberapa aturan yang sudah cukup baik demi kesejahteraan diri dan kelompoknya, atau berusaha menulis beberapa aturan dengan maksud yang sama. Bila Hatta hidup dalam kesederhanaan, beberapa pemimpin kita justru berlomba-lomba menimbun kekayaan. Dan beberapa orang mungkin perlu meneladani Bung Hatta, belajar mengenai arti perkawinan, wanita dan kesenangan.

Satu hal yang juga saya ingat dari Bung Hatta adalah bagaimana dia tetap menjaga hubungan baik dan silaturahim dengan orang-orang yang mungkin berseberangan secara ideologi atau pandangan politik. Yang paling gampang adalah hubungannya dengan Bung Karno. Banyak saksi sejarah yang menuturkan Bung Hatta sering mengritisi kebijakan politik Bung Karno. Pengunduran diri Mohammad Hatta tahun 1956 sendiri karena banyaknya perbedaan visi antara keduanya. Setelah mengundurkan diri pun Hatta tetap rajin mengritisi kebijakan-kebijakan Soekarno, baik di media massa maupun melalui surat-surat pribadi. Tapi saat Hatta diserang stroke tahun 1960, Bung Karno secara khusus mengunjungi beliau dan membujuknya agar mau berobat ke Eropa dengan biaya negara. Bung Karno menitip pesan kepada sekretaris pribadi Bung Hatta agar menjaganya, dan Bung Hatta juga berpesan kepada orang dekat Soekarno untuk menjaga sahabatnya itu.

Hatta pun demikian, saat Soekarno sakit keras di tahun 1970 beliau datang menjenguk, saling berpegangan tangan, dan sama-sama menangis. Hatta juga yang menjadi wali Guntur Soekarnoputra saat menikah di Bandung sebab Soekarno tidak bisa menghadiri karena menjadi tahanan kota.

Hatta sendiri juga berusaha untuk tidak menyerang Soekarno secara pribadi di dalam tulisan-tulisannya atau pidato-pidatonya. Ia selalu mengingatkan untuk tidak usah mempertanyakan kecintaan Soekarno kepada tanah air, meskipun Soekarno beberapa kali mengeluarkan kebijakan yang tidak sesuai dengan pemikiran dia (Hatta). Saat di luar negeri, Hatta juga mengurangi kritiknya kepada Sokarno karena tetap berusaha menjaga nama Indonesia (dan Soekarno) di dunia international. Hatta juga pernah ditanyai pendapatnya tentang Soekarno saat di Amerika, dan dia menjawab, “Dalam banyak hal saya tidak setuju dengan Bung Karno. Tetapi, ia Presiden Republik Indonesia, negeri yang kemerdekaannya saya perjuangkan selama bertahun-tahun. Benar atau salah, ia presiden saya.”

Keakraban yang ‘tidak lazim’ bila dilihat dari keseharian mereka di dunia politik. Dan ketidaklaziman yang sangat perlu kita teladani dan juga oleh pemimpin-pemimpin kita saat ini.

One comment

  1. jika patut atau pantas dijadikan teladan maka memag sangat pantaslah beliau menjadi suri teladan bangsa ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: