Pendidikan untuk Anak-Anak

Pertengahan Februari 2014  lalu, saya berkenalan dengan seorang warga negara Belgia yang kebetulan sedang menjalani program research internship di Universitas Gadjah Mada. Karena dia magang di unit yang isinya adalah teman-teman saya, makanya bisa mengenal dia. Seperti selayaknya (atau senoraknya) anak kampung yang bertemu bule, saya banyak berbicara dengannya tentang tempat asalnya, baik alamnya dan tentu saja budaya orang-orang di sana.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah pendidikan. Di Belgia pendidikan dasar baru dimulai pada umur 12 tahun, sedangkan sebelumnya anak-anak hanya diajari tentang bahasa. Kebetulan menurut dia di Belgia memang mayoritas warganya menggunakan tiga bahasa utama. Dan baru setelah usia 12 tahun anak-anak disuruh bersekolah. Maka tidak heran dia sudah berumur 24 tahun meskipun masih tercatat sebagai siswa high school. Akan tetapi, karena mereka memulai sekolah bukan di usia sangat dini, saat pendidikan dasar mereka sudah bisa menyerap ilmu pengetahuan dengan baik. Dan tidak heran juga anak-anak high school disana bisa dianggap sejajar dengan mahasiswa semester akhir program sarjana di Indonesia.

Saya jadi agak sedih bila membandingkan dengan Indonesia. Bukan berarti saya menggangap sistem pendidikan di Indonesia itu buruk, tapi jelas terlihat keunggulan program di negara mereka dibanding Indonesia. Anak usia enam atau tujuh tahun di Indonesia sudah dipaksa bangun dan berangkat sekolah pukul setengah tujuh pagi, belajar selama setengah harian lalu pulangnya dibekali pekerjaan rumah setumpuk. Yang orangtuanya cukup berada, pada sore harinya masih memaksa sang anak untuk ikut seabrek kegiatan les tambahan yang juga cukup menyita waktunya. Malam harinya? Ya mengerjakan pekerjaan rumah tadi itu.

OK, bangun pagi mungkin ajaran yang bagus, tapi bangun pagi tidak selalu berarti harus beraktifitas pagi-pagi. Begitu juga dengan kegiatan anak yang seharian penuh. Sebagian orangtua menganggap anak itu akan malas bila terlalu banyak diberi waktu luang, tapi mereka lupa bahwa anak-anak memang diprogram untuk bermain dan bersenang-senang. Dan kita juga lupa bahwa bermain juga merupakan belajar buat anak-anak, karena lewat permainan yang dilakukan otak mereka dirangsang untuk berpikir dan berkembang. Yang diingat adalah bahwa anak tugasnya belajar. Kita menuntut setiap anak mengerjakan tugas mereka, dan alpa memenuhi hak mereka sebagai anak.

Bagaimana dengan hasilnya? Tadi sudah saya berikan sedikit gambaran bahwa anak-anak high school di Belgia mempunyai kemampuan yang bisa dianggap setara dengan mahasiswa program sarjana di Indonesia. Mereka di sana juga sudah dikelompokkan menurut bidang dan minat masing-masing, sebagai contoh si mahasiswa tadi mengambil bidang Kimia Lingkungan. Dan mereka sudah sangat cekatan dan siap memasuki dunia kerja, apalagi dibandingkan dengan lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum pendidikan di Indonesia tidak aplikatif dan di industri, lulusan perguruan tinggi Indonesia tetap harus menjalani masa training dulu.

Saya memang tidak mengulik lebih jauh tentang kurikulum dan sistem pendidikan di sana dan sekali lagi saya tekankan saya tidak menganggap bahwa sistem pendidikan Indonesia semuanya buruk, tetapi dari obrolan sekilas itu, yang bisa saya tangkap adalah pendidikan di sana berorientasi kepada si anak sedangkan program pendidikan di Indonesia adalah apa-apa yang diinginkan oleh orang dewasa, tanpa memikirkan anak-anak yang akan menjalaninya. Ini belum termasuk bila kita membahas pendidikan berorientasi nilai dan banyak hal lain yang sampai sekarang di Indonesia sendiri masih diperdebatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: