Review All England Super Series Premier 2014

Udah lama juga ga bikin review turnamen bulutangkis. Sebenarnya saat Korea Open Super Series dan Malaysia Open Super Series Premier kemarin saya sudah bikin tulisan, tapi gagal diselesaikan karena kesal dengan performa buruk para pemain Indonesia. (penulis tanpa dedikasi :hammer).

All England merupakan turnamen kelas Super Series Premier. Bukan itu saja, All England juga diakui sebagai turnamen bulutangkis yang tertua di dunia. All England mungkin bisa dianggap setara dengan Wimbledon di tenis, selain sama-sama bertempat di Inggris, Wimbledon yang merupakan turnamen Grand Slam juga tercatat sebagai turnamen tenis tertua di dunia.

All England 2014 yang diselenggarakan 4-9 Maret  didahului dengan berita buruk bagi dunia bulutangkis, yaitu di skors-nya pemain Korea Lee Yong Dae karena melewatkan serangkaian tes doping yang memang wajib. Setelah banding pun hasilnya tetap sama, Yong Dae dilarang tampil di lapangan bulutangkis selama setahun. Kehilangan yang cukup besar buat bulutangkis mengingat Yong Dae adalah pemain yang sangat bagus.

Indonesia datang ke Birmingham dengan bekal yang cukup buruk. Bekal buruknya adalah gagal total di German Open GP Gold yang diselenggarakan di minggu sebelumnya, semua pemain Indonesia kandas di babak pertama termasuk Tommy Sugiarto yang menjadi unggulan pertama di turnamen tersebut. Namun persiapan yang dilakukan bisa dibilang cukup baik, sebagian besar pemain sudah beristirahat, tidak mengikuti turnamen dalam waktu cukup lama supaya fokus untuk menggapai hasil terbaik di All England ini. Sebut saja andalan utama Indonesia, ganda putera Ahsan/ Hendra dan ganda campuran Tontowi/ Liliyana, mereka tidak mengikuti turnamen apapun setelah Malaysia Open di akhir Januari lalu.

Indonesia menempatkan 38 orang pemain di kelima sektor yang di pertandingkan. Berikut adalah rincian pemain Indonesia yang diturunkan:

Tunggal putera                  : Tommy Sugiarto (3), Sony Dwi Kuncoro, Dionysius Hayom Rumbaka, Andre Kurniawan Tedjono (Q)

Tunggal puteri                   : Lindaweni Fanetri, Bellatrix Manuputy

Ganda putera                    : Mohammad Ahsan/ Hendra Setiawan (1), Angga Pratama/ Ryan Agung Saputra (6), Gideon Markus Fernaldi/ Markis Kido, Berry Angriawan/ Ricky Karanda Suwardi, Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira/ Ade Yusuf (Q)

Ganda Puteri                     : Pia Zebadiah Bernadeth/ Rizki Amelia Pradipta (7), Nitya Krishinda Maheswari/ Greysia Polii, Anggia Shitta Awanda/ Della Destiara Haris, Suci Rizky Andini/ Tiara Rosalian Nuraidah (Q)

Ganda campuran             : Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir (2), Markis Kido/ Pia Zebadiah Bernadeth (6), Riky Widianto/ Puspita Richi Dili, Irfan Fadhilah/ Weni Anggraini, Gideon Markus Fernaldi/ Rizki Amelia Pradipta (Q), Praveen Jordan/ Debby Susanto (Q)

Dari 21 pertandingan yang diikuti pemain Indonesia, 5 diantaranya harus memulai langkah dari babak kualifikasi. Itupun pada akhirnya tidak semuanya berhasil masuk ke babak utama. Andre Kurniawan misalnya, meskipun berhasil mengalahkan unggulan pertama di babak kualifikasi Anand Pawar 18-21, 21-13, 21-19, dia terpaksa harus mundur di pertandingan selanjutnya karena cedera. Namun saat itupun dia sudah dalam posisi kalah, 19-21, 7-10 menghadapi Zi Liang Darek Wong dari Singapura. Begitu juga dengan Praveen/ Debby dan juga pasangan Gideon/ RIzki, meskipun berhasil menang di pertandingan pertama, mereka gagal melangkah ke babak utama karena kalah di pertandingan kedua. Beruntung buat Gideon dan Rizki karena mereka berdua juga turun di ganda putera dan ganda puteri dengan pasangannya masing-masing. Suci/ Tiara yang berhasil melaju ke babak utama setelah mengandaskan pemain Macau 21-9, 21-15 dalam waktu 28 menit. Sementara Wahyu/ Ade akhirnya lolos tanpa pertandingan.

Babak Pertama

Babak pertama All England diwarnai dengan kejutan-kejutan besar. Dimulai dari kalahnya unggulan keempat ganda putra Liu Xialong/ Zihan Qiu yang merupakan juara bertahan alias pemenang All England 2013. Yang lebih mengejutkan lagi, mereka kalah hanya dalam waktu 35 menit dan dengan skor mencolok, 12-21, 9-21. Mereka tidak sendirian, karena beberapa saat setelahnya juara Malaysian Open Super Series Premier 2014, V Shem Goh/ Khim Wah Lim juga kalah, namun lawan yang mereka hadapi adalah unggulan ketiga Mathias Boe/ Carsten Mogensen dari Denmark. Buat Boe/ Morgensen ini merupakan balas dendam mereka setelah dikalahkan di Malaysian Open.

Selain mereka juga ada unggulan ketujuh dari China, Du Pengyu yang kalah dari pemain Inggris Rajiv Ouseph, dan ini adalah kekalahan kedua Pengyu setelah sebelumnya juga dikalahkan di Hongkong Open 2013. Lalu ada juga Jan O Jorgensen yang dikalahkan pemain Korea Selatan Wan Ho Son 21-14, 21-18, dan ini juga kekalahan kedua Jorgensen karena di Thomas 2012 dia juga pernah dikalahkan. Unggulan tunggal putera lainnya, Tien Minh Nguyen juga dikalahkan pemain peringkat 50 besar dari Korea, Lee Dong Keun 21-17, 16-21, 16-21 dalam pertandingan panjang selama 1 jam 22 menit.

Unggulan tunggal putra utama Indonesia, Tommy Sugiarto nasibnya juga tidak lebih baik. Menghadapi pemain peringkat 44 dunia dari China, Huan Gao, Tommy menyerah 21-13, 10-21, 21-18 dalam waktu 80 menit. Hasil ini jauh lebih buruk dari pencapaian Tommy di edisi All England sebelumnya di mana dia berhasil menjejak semifinal dan sempat mengalahkan Huan Gao juga. Kegagalan Tommy juga diikuti oleh tunggal putra Indonesia lainnya, Sony Dwi Kuncoro yang kalah dari Wang Zhengmin, juga dari China, 21-11, 21-10 dalam 33 menit.

Dalam kelanjutannya bukan hanya Tommy dan Sony saja pemain Indonesia yang terpaksa berhenti di babak pertama. Selain mereka masih ada dua ganda putra, dua ganda campuran dan satu ganda putri yang sudah harus menyudahi perburuan gelar. Pasangan-pasangan muda Berry/ Ricky dan Wahyu/ Ade . Berry/ Ricky kalah dari pasangan Jerman, sedangkan Wahyu/ Ade mampu menyulitkan pasangan Indonesia lainnya Gideon/ Markis. Mampu mengimbangi di game kedua, dan hampir bisa mengejar di akhir game ketiga, Wahyu/ Ade akhirnya harus mengakui keunggulan kompatriotnya itu 21-15, 19-21, 21- 19. Pasangan senior Nitya/ Greysia juga gagal mengulang kesuksesan menundukkan Ma Jin/ Tang Yuanting di Korea Open Super Series awal Januari lalu dan kalah 13-21, 12-21. Lalu masih ada ganda campuran Riki/ Puspita dan Irfan/ Weni yang juga kalah dari lawan masing-masing.

Unggulan-unggulan utama lolos ke babak kedua relatif mudah, kecuali unggulan pertama tunggal putri Li Xuerui yang kembali harus menghadapi peringkat 19 dunia Busanan Ongbumrungpan. Dalam dua pertemuan mereka sebelumnya Busanan juga selalu bisa menyulitkan Li dan memaksakan rubbergame meskipun selalu gagal menang. Untuk kali ini pun Busanan berhasil memaksa Li bermain tiga game selama satu jam lebih.

Babak 16 Besar

Unggulan-unggulan utama masih melaju, namun beberapa pemain unggulan lainnya secara mengejutkan kembali berguguran. Dimulai dari kalahnya unggulan keenam ganda putri asal Korea, Jung Kyung Eun/ Kim Ha Na dari rekan senegara mereka Lee So Hee/ Shin Seung Chan padahal dalam dua pertemuan sebelumnya Jung/ Kim selalu menang. Hal yang sama terjadi pada ganda campuran Indonesia unggulan keenam Markis Kido/ Pia Zebadiah yang juga kalah dari pasangan Singapura Danny Bawa Chrisnanta/ Yu Yan Vanessa Neo yang selama ini juga belum pernah menang melawan Kido/ Pia.

Christina Pedersen/ Kamilla Rytter Juhl juga kalah melawan pasangan baru China Ma Jin/ Tang Yuangtin, begitu juga dengan unggulan kedua Mathias Boe/ Carsten Mogensen yang kalah melawan ganda putra Indonesia juara French Open 2013 Gideon Markus/ Markis Kido. Ganda putri unggulan China Bao Yixin/ Tang Jinhua juga untuk pertama kalinya kalah melawan pemain non unggulan dari Jepang Reika Kakiiwa/ Miyuki Maeda.

Li Xuerui kembali mendapat ujian berat saat menghadapi Minatsu Mitani. Melawan pemain Jepang tersebut Li lagi-lagi harus bermain rubber game selama satu jam, beruntung Li akhirnya bisa menang meskipun dengan skor ketat. Begitu pula dengan Saina Nehwal yang sepertinya masih belum mendapatkan performa terbaiknya. Menghadapi pemain ranking 41 dari USA, Saina dipaksa bermain tiga game 24-22, 18-22, 21-19.

Rajiv Ouseph tidak bisa melanjutkan penampilan impresifnya saat menghadapi Du Pengyu di hari sebelumnya, menghadapi wakil Jepang Kento Momota, Ouseph justru kalah 21-15, 21-10. Begitu juga dengan Huan Gao yang sebelumnya mengalahkan unggulan ketiga Tommy Sugiarto, meskipun mampu memberikan perlawanan selama hampir satu jam, akhirnya harus mengakui keunggulan rekannya Wang Zhengmin 21-19, 21-17.

Pemain Indonesia sendiri cukup banyak yang berguguran di babak perdelapanfinal ini. Mengikuti jejak Kido/ Pia, dua pasangan ganda puteri muda Indonesia, Suci/ Tiara dan Anggia/ Della harus mengakui lawan masing-masing yang secara pengalaman dan peringkat memang jauh di atas mereka. Suci/ Tiara menghadapi unggulan pertama China Wang Xiaoli/ Yu Yang sedangkan Anggia/ Della melawan ganda China lainnya, unggulan kelima Tian Qing/ Zhao Yunlei. Kedua pasangan ini kalah dalam waktu kurang dari 40 menit.

Tunggal Indonesia juga mengakhiri perjuangannya di babak ini. Harapan terakhir tunggal putra, Dionysius Hayom Rumbaka kalah dari pemain Korea Selatan Son Wan Ho 16-21, 21-14, 10-21 meskipun sudah berjuang selama satu jam. Kekasih Hayom, Bellaetrix Manuputy sendiri tidak lebih baik, setelah memeras keringat selama hampir 80 menit, Bella akhirnya harus mengakui kemenangan pemain Kanada Li Michelle. Kekalahan Bella memupuskan harapan tunggal putri memenuhi target semifinal karena beberapa saat sebelumnya Lindaweni Fanetri juga kalah dari unggulan kelima dari Korea Selatan Sung Ji Hyun.

Perempat Final

Hari keempat penyelenggaraan semuanya diawali dengan penampilan apik tiga ganda Indonesia. Dimulai dari Gideon/ Markis yang melanjutkan pembataiannya dengan mengalahkan unggulan kelima dari Malaysia dalam waktu 38 menit saja. Beberapa saat setelahnya, meskipun harus bekerja keras, Tontowi/ Liliyana membalaskan dendam Markis Kido/ Pia Zebadiah dengan menaklukkan Danny/ Yu Yan 21-12, 17-21, 21-12. Namun Angga/ Ryan gagal membendung musuh bebuyutannya Hiroyuki Endo/ Kenichi Hayakawa meskipun sudah nyaris meraih kemenangan. Angga/ Ryan kalah 22-20, 15-21, 19-21. Secara statistik dan pengalaman di lapangan kedua pasangan ini sebenarnya sama kuat dan saling mengalahkan dalam setiap pertemuan mereka, tetapi sayangnya kali ini kemenangan belum menjad milik Indonesia.

Kekalahan Angga/ Ryan juga diikuti harapan terakhir ganda putri Indonesia, Pia/ Rizki yang gagal menaklukkan unggulan ketiga dari Jepang Misaki Matsumoto/ Ayaka Takahashi. Meskipun mereka sempat menang di game pertama, namun di game kedua Misaki/ Ayaka meleset jauh meninggalkan Pia/ Rizki sehingga kalah dan meskipun kembali bersaing ketat di game ketiga, pada akhirnya Misaki/ Ayaka yang menjadi pemenang dengan 16-21, 21-9, 21-18. Pemain terakhir Indonesia, Ahsan/ Hendra akhirnya melengkapi formasi Indonesia di semifinal dengan mengalahkan pasangan baru mantan peringkat satu dunia dan juara olimpiade, Fu Haifeng/ Zhang Nan dalam dua game lansung.

Di perempatfinal ini nyaris tidak ada yang luar biasa, setidaknya hasilnya sesuai dengan prediksi. Unggulan-unggulan utama masih mulus mengatasi lawan masing-masing untuk mencapai semifinal.

Semifinal

10 pemain China mendominasi tempat semifinal, dengan delapan diantara mereka harus bentrok dengan sesama pemain China. Tapi setidaknya dengan begitu mereka sudah memastikan empat tempat di final. Mereka adalah ganda campuran unggulan pertama Zhang Nan/ Zhao Yunlei dan unggulan ketiga Xu Chen/ Ma Jin, tunggal puteri unggulan kedua Wang Yihan dan saudarinya Wang Shixian yang diunggulkan di tempat keempay, tunggal putera juara bertahan Chen Long dan Wang Zhengming dan ganda puteri unggulan pertama Wang Xiaoli/ Yu Yang dan unggulan kelima Tian Qing/ Zhao Yunlei. Dua nama lainnya adalah unggulan pertama tunggal puteri yang akan menghadapi juara dunia Ratchanok Intanon dan ganda puteri Ma Jin/ Tang Yuangtin. Yang lebih menariknya lagi, kedelapan pasangan China tersebut semuanya bermain di lapangan yang sama, yaitu court 2.

Tunggal puteri adalah satu-satunya yang menempatkan keempat unggulan teratas di semifinal, yang akhirnya dimenangkan oleh unggulan pertama Li Xuerui dan unggulan keempat Wang Shixian. Intanon kembali harus menunggu untuk merebut gelar All England, setelah tahun sebelumnya juga kalah saat di final melawan pebulutangkis gaek Tine Baun. Satu tempat final tunggal putera diisi oleh Chen Long setelah menang dari Wang Zhengming dan yang lainnya ditempati Lee Chong Wei yang masih belum terkalahkan. Zhang Nan/ Zhao Yunlei, dan Wang Xiaoli/ Yu Yang juga akhirnya memenangi perang saudara melawan rekan senegara masing-masing dan berhak melaju ke final.

Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir masih menjaga asa untuk menggapai hattrick gelar All England setelah mengalahkan Ko Sung Hyun/ Kim Ha Na 21-13, 21-11 dalam waktu 31 menit. Langkahnya ke final lalu diikuti oleh Ahsan/ Hendra yang mengalahkan compatriot mereka, Gideon Markus/ Markis Kido 21-7, 21-12 hanya dalam 22 menit. Setelah pertandingan Kido sendiri mengaku bahwa dia masih menyimpan asa untuk menjuarai All England. Menurutnya dia pernah memenangi Olimpiade yang digelar empat tahun sekali, jadi mengapa dia tidak bisa menang di All England yang setiap tahun? Sedangkan tempat terakhir di final dipastikan oleh Hiroyuki Endo/ Kenichi Hayakawa setelah mengandaskan wakil Korea Selatan Sung Hyun Ko/ Shin Baek Choel.

Final

Kelima unggulan pertama di lima kategori berhasil mencapai final, begitu juga dengan tiga unggulan kedua. Dua yang bukan unggulan teratas adalah unggulan keempat tunggal puteri yang di semifinal memupus asa saudarinya yang unggulan kedua, Wang Yihan, dan yang satunya adalah pasangan baru ganda puteri Ma Jin/ Tang Yuangtin. Ma Jin sendiri dengan pengalamannya dan prestasinya selama bertahun-tahun tidak dipandang heran bisa mencapai final.

Tapi Ma Jin/ Tang Yuangting ternyata masih belum bisa menghalangi  Wang Xiaoli/ Yu Yang mempertahankan gelar juaranya meskipun sempat bertahan selama 81 menit, mereka kalah 17-21, 21-18, 21-23.

Pertandingan pertama tersebut ternyata menjadi satu-satunya rubber game di final All England 2014. Berikutnya Ahsan/ Hendra berhasil mengalahkan Hiroyuki Endo/ Kenichi Hayakawa 21-19, 21-19 dan merebut gelar pertama ganda putera All England pertama buat Indonesia dalam 11 tahun. Kali terakhir Indonesia membawa pulang gelar ganda putera adalah tahun 2003 lewat tangan Chandra Wijaya/ Sigit Budiarto.

Wang Shixian tidak sia-sia menghalangi saudarinya sampai ke final, karena pada akhirnya dia yang berhasil membawa pulang gelar juara dengan mengandaskan unggulan pertama Li Xuerui yang juga dari China.

Lee Chong Wei berhasil menuntaskan dendamnya setahun lalu saat dikalahkan Chen Lon di final, dan kali ini dia yang mengalahkan Chen Long 21-13, 21-18 meskipun membutuhkan waktu satu jam untuk itu.

Dan di pertandingan terakhir Tontowi/ Liliyana berhasil memenuhi target PBSI untuk membawa pulang dua gelar juara, dan target pribadi mereka untuk hattrick juara di All England. Sebelumnya mereka juga sudah membawa pulang gelar juara di tahun 2012 dan 2013. Dan untuk kedua kalinya Indonesia Raya berkumandang di National Indoors Arena, Birmingham tersebut, untuk kedua kalinya juga Merah Putih digerek lebih tinggi dari bendera-bendera lainnya.

Berikut daftar lengkap pemenang All England 2014

Tunggal Putera                  1.            Lee Ching Wei (Malaysia)

                                                2.            Chen Long (China)

                                                3/4.        Son Wan Ho (Korea Selatan)

                                                3/4.        Wang Zhengming (China)

Tunggal Puteri                   1.            Wang Shixian (China)

                                                2.            Li Xuerui (China)

                                                3/4.        Ratchanok  Intanon (Thailand)

                                                3/4.        Wang Yihan (China)

Ganda Putera                    1.            Mohammad Ahsan/ Hendra Setiawan (Indonesia)

                                                2.            Hiroyuki Endo/ Kenichi Hayakawa (Jepang)

                                                3/4.        Gideon Markus Fernaldi/ Markis Kido (Indonesia)

                                                3/4.        Ko Sung Hyun/ Shin Baek Choel  (Korea Selatan)

Ganda Puteri                     1.            Wang Xiaoli/ Yu Yang (China)

                                                2.            Ma Jin/ Tang Yuangting (China)

                                                3/4.        Tian Qing/ Zhao Yunlei (China)

                                                3/4.        Misaki Matsumoto/ Ayaka Takahashi (Jepang)

Ganda Campuran             1.            Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir (Indonesia)

                                                2.            Zhang Nan/ Zhao Yunlei (China)

                                                3/4.        Xu Chen/ Ma Jin (China)

                                                3/4.        Ko Sung Hyun/ Kim Ha Na (Korea Selatan)

Terima kasih kepada seluruh pemain, offisial dan segenap tim Merah Putih yang telah berjuang mengharumkan nama Indonesia. Terima kasih tidak cuma patut dihaturkan kepada yang sudah menang, karena yang belum menang pun sudah berjuang dengan sekuat tenaga. Bahkan terima kasih kepada tim-tim mereka yang mungkin tidak ikut berangkat ke Birmingham, terima kasih kepada sponsor, dan tentunya juga kepada jajaran pengurus PBSI. Berikutnya kita buat bendera yang dikibarkan adalah merah putih. Kembalikan supremasi kejayaan bulutangkis Indonesia

#AyoIndonesiaBisa

Lihat juga: Catatan Emas Bulutangkis Indonesia

One comment

  1. semoga tim bulu tangkis garuda kedepannya semakin berprestasi lagi. semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: