Are You In The Wrong Job?

Beberapa waktu lalu pernah menulis tentang Salah Jurusan di Perkuliahan, sekarang saya akan mem-publish tulisan tentang salah kantor atau salah memilih pekerjaan. Meskipun bukan tulisan saya pribadi, tetapi saya totally setuju dengan poin-poin di dalamnya.

Are You In The Wrong Job?

Kalimat di atas telah menjadi pertanyaan banyak orang. Ada yang berusaha menemukan jawabannya, tetapi banyak pula yang tak mau memikirkannya. Boleh jadi hal ini karena tiadanya waktu untuk merenung, tetapi boleh jadi pula karena kekhawatiran mereka terhadap temuan mereka sendiri. Apa yang akan terjadi kalau saya memang berada di pekerjaan yang salah? Bukankah ini akan menciptakan masalah yang berkepanjangan?

Padahal sesungguhnya pertanyaan ini amatlah penting untuk menemukan kembali hidup kita. Sesungguhnya kita mempunyai pekerjaan sejati yang memang ditakdirkan Tuhan untuk kita jalani. Sebuah soul job.

Saya menganalogikan soul job ini sebagai sebuah baju yang khusus didesain Tuhan hanya untuk kita. Ketika Tuhan menciptakan kita sejatinya Tuhan sudah mengukur baju sesuai dengan ukuran dan bentuk tubuh kita. Sebuah baju yang memang betul-betul pas untuk kita kenakan. Namun Tuhan tidak memberikan baju tersebut begitu saja. Kitalah yang harus menemukannya. Inilah yang disebut dengan calling kita, dan inilah sebenarnya alasan terpenting mengapa kita dikirim Tuhan ke dunia ini.

Ada 6 tanda yang menunjukkan bahwa saat ini Anda berada di pekerjaan yang salah. Pertama, Anda tidak menjadi yang terbaik. Tidak menjadi yang terbaik adalah indikasi yan sangat jelas bahwa Anda berada di bidang yang salah. Tuhan menciptakan kita untuk menjadi yang terbaik. Tuhan telah menetapkan sebuah grand design mengenai manfaat yang akan kita berikan kepada dunia. Inilah hukum Tuhan pada setiap ciptaan-Nya. Tidak pernah sekali pun Tuhan menciptakan sesuatu yang tidak bermanfaat, dan agar memberikan manfaat yang semaksimal mungkin Tuhan melimpahi kita dengan semua potensi yang dibutuhkan. Sayangnya kita tidak dapat memanfaatkan potensi itu, karena bekerja bukan di bidang yang ditakdirkan untuk kita.

Kedua, Anda tidak menyukai pekerjaan Anda. Anda hanya melakukannya karena uang. Ini membuat Anda tidak bahagia. Dan karena Anda tak menyukai pekerjaan itu, maka Anda pun sulit untuk berkorban. Anda hanya melunasi kewajiban, tidak mau bekerja keras apalagi meluangkan waktu untuk mempelajari sesuatu yang baru.

Ketiga, Anda sering merasa malas datang ke kantor. Inilah yang Anda rasakan setiap pagi terutama di hari Senin. Rasa malas ini sebetulnya sebuah sinyal yang sangat kuat bahwa Anda sedang melakukan sesuatu yang tidak ditakdirkan untuk Anda. Anda merasa seolah-olah ada sebuah kekuatan dari luar yang memaksa Anda berangkat ke kantor setiap pagi. Ini bedanya dari melakukan calling Anda sendiri. Berada dalam calling membuat Anda memiliki kekuatan internal yang begitu dahsyat yang menggerakkan Anda setiap hari. Calling itu berada dalam diri Anda dan berasal dari Tuhan. Inilah yang menjadikan kita begitu ringan melangkah ke tempat kerja.

Keempat, Anda merasa bahwa keahlian Anda tidak termanfaatkan dengan baik. Ini membuat Anda cepat bosan dan merasa kurang berguna. Sejatinya kebahagiaan terbesar dalam bekerja dicapai bila kita menghadapi pekerjaan yang begitu menantang, sehingga membuat kita berjuang habis-habisan untuk mencapai kesuksesan. Perjuangan seperti ini memang berat dan menguras energi, tetapi akan membuat kita merasa berguna, berarti, bermanfaat, berharga dan bermakna.

Kelima, Anda tidak suka memceritakan pekerjaan Anda. Karena, Anda merasa tidak ada yang dapat dibanggakan dari pekerjaan itu.

Sebelum Anda salah menangkap, saya ingin menjelaskan apa yang saya maksudkan. Ini bukanlah bercerita mengenai suasana kerja, atasan atau teman-teman di kantor. Cerita yang saya maksudkan benar-benar mengenai pekerjaan Anda, yaitu menjelskan segala sesuatu yang berkaitan dengan fitur pekerjaan kita secara terperinci. Dalam pekerjaan saya sebagai pembicara publik, saya misalnya sering bercerita pada istri mengenai bagaimana saya mencari ide untuk seminar saya, bagaimana menemukan analogi yang kuat untuk menjelaskan suatu konsep, bagaimana suasana interaksi saya dengan audiens. Di balik cerita tersebut sesungguhnya ada sebuah kebanggaan, ada sebuah rasa berarti, rasa menjadi orang yang berguna dan dibutuhkan orang lain.

Keenam, Anda tidak bisa menjadi diri Anda sendiri. You can’t be you. Analogi dari kondisi ini adalah ketika Anda memakai baju yang terlalu besar atau terlalu kecil. Bukankah Anda merasa kikuk dan canggung? Atau katakanlah Anda memakai baju dengan ukuran yang pas tetapi dengan warna yang tidak serasi dengan penampilan Anda. Sudah pasti Anda tak akan merasa nyaman.

Ketika Anda melakukan pekerjaan yang memang ditakdirkan Tuhan untuk Anda, Anda akan merasakan keindahan yang luar biasa. Semuanya begitu indah dan serasi. Hidup Anda akan mengalir begitu saja. Anda akan merasa menyatu dengan alam semesta. Bahkan alam semesta dan segala isinya seakan-akan mengalir dan berada bersama Anda. Inilah yang akan membuat Anda menjdi the best version of yourself. Inilah kebahagiaan dalam arti yang sesungguhnya.

 

Arvan Pradiansyah

*Dimuat dalam SWA edisi XXX/ 1-9 Juli 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: