Kepemimpinan dan Manajemen

Pascadebat calon presiden yang pertama, 9 Juni 2014, seluruh media (termasuk media sosial) sibuk mendiskusikan dan membedah penampilan kedua pasangan tersebut. Di antara  begitu banyak tema pekerjaan, ada satu fokus yang sungguh mengusik pikiran. Beberapa orang lantang berkesimpulan bahwa capres A adalah “pemimpin”, sementara capres B adalah “manajer”. Atau, ada juga yang mengungkapkan dalam perspektif lain bahwa capres yang satu adalah “konseptor”, sementara lainnya “eksekutor”. Pandangan ini seolah-olah mendikotomi peran “kepemimpinan” dan “manajemen”, sambil meninggikan yang satu terhadap yang lain. Dalam hal ini, peran yang dianggap lebih tinggi adalah peran “kepemimpinan dan konseptualisasi”, sementara peran “manajemen dan eksekusi” dianggap memiliki derajat lebih rendah.

Lagi-lagi, saya tidak akan membedah fenomena politik di balik kasak-kusuk dikotomi di atas. Saya akan mengkaji wacana tersebut dari perspektif manajemen organisasi, khususnya organisasi bisnis. Pada dasarnya, ada dua jenis proses bisnis utama dalam sebuah perusahaan. Yang pertama, proses strategis (strategic process) berupa perumusan kebijakan bisnis yang bersifat jangka panjang, dengan dimensi dampak yang lebih luas pula. Beberapa perusahaan menyebut kegiatan ini sebagai policy management. Sementara yang kedua adalah proses operasional (operational process) berupa pengelolaan aktivitas bisnis keseharian yang bersifat jangka pendek, sebagai hasil penjabaran dari rumusan kebijakan jangka panjang di atas. Ada pula yang menyebut proses ini sebagai activity management.

Orang sering melakukan pemisahan antara proses strategis dan proses operasional. Proses strategis dalam rangka “doing the right things” dianggap sebagai perkara yang lebih penting dan bergengsi daripada proses operasional dalam konteks “doing things right”. Dan, urusan tersebut semakin dipertajam ketika lebih jauh dikatakan bahwa doing the right things adalah tugas seorang pemimpin sementara doing things right adalah sekadar peran seorang manajer. Lawrence G. Hrebiniak dalam bukunya Making Strategy Works (Wharton School Publishing, 2005) bahkan menyimpulkan bahwa para profesional bisnis lulusan sekolah MBA di dunia juga cenderung terlatih membuat rencana strategis, tetapi gagap saat mengeksekusinya secara operasional.

Pada hakikatnya, doing the right things dan doing things right adalah dua sisi dari satu koin yang sama, yakni koin kepemimpinan yang sejati. Tanpa strategi yang baik, eksekusi akan tak terarah baik dan tumpul membuntu. Sebaliknya, tanpa eksekusi yang baik, strategi tak lebih dari coretan di langit tanpa makna. Pernah suatu saat, bank kelas dunia Citibank mengenakan slogan promosinya dengan kalimat “dreams are good, reality are better”. Setinggi-tingginya mimpi dan sehebat-hebatnya strategi, akhirnya kenyataan lapanganlah yang akan menentukan kesuksesan sebuah organisasi. Ram Charan dan Larry Bossidy, dalam buku klasik mereka, Execution: The Disciplin of Getting Things Done (2002), bahkan menulis “It’s rarely for a lack of smart strategy or vision. It’s bad execution. AS simple as that; not getting things done, being indecisive, not delivering on commitment”. Duo ahli manajemen strategis lainnya, Robert S. Kaplan dan David P. Norton, dalam buku mereka, The Strategy-focused Organization (2001), pun berkesimpulan sama.

Mereka yakin seyakin-yakinnya bahwa bukannya formulasi strategi, melainkan implementasi strategilah yang mampu meningkatkan nilai dari sebuah korporasi. Saat ini perbedaan yang sering terjadi antara sebuah perusahaan dan pesaingnya bukanlah terletak pada kerumitan konsep dan kecanggihan strateginya, melainkan pada kesanggupan eksekusi dan kecekatan implementasi. Jika pesaing dapat melakukan eksekusi yang lebih baik dan tajam dari kita, mereka akan memenangi persaingan seketika itu juga. Pasar tak akan memberi kesempatan kepada kita untuk berceloteh panjang lebar tentang kehebatan strategi kita, karena yang mereka ingin lihat dan rasakan adalah kenyataan yang bisa kita hadirkan di hadapan mereka.

Seorang pemimpin sejati dapat diibaratkan sebagai makhluk manusia yang sempurna. Manusia disebut eksis dan hidup jika ditandai dengan keberadaan jiwa (roh) dan raga (tubuh). Manusia tanpa roh disebut mayat, yang bisa dilihat wujudnya tetapi tak berarti apa-apa, baik bagi diri sendiri maupun sesama. Sementara, roh tanpa raga disebut juga makhluk gaib, yang tak bisa dikenali oleh lingkungan sekitarnya. Jadi, sama halnya dengan manusia membutuhkan jiwa dan raga, perusahaan memerlukan proses strategis dan operasional, maka kepemimpinan sejati juga menuntut kemampuan konsepsi sekaligus eksekusi. Tak perlu menyanjung jiwa lebih mulia dari raga, dan menganggap peran kepemimpinan lebih bergengsi daripada peran manajemen. Juga, tak perlu menganggap perkara strategi lebih tinggi daripada urusan eksekusi.

Bahka, guru saya pernah berujar bahwa dalam kehidupan keseharian organisasi, justru to do the things right sering jauh lebih sulit daripada to do the right things. Mengapa? “Karena keringat dan darah ada di situ,” tuturnya. Lebih jauh, mana mungkin seseorang bisa merumuskan proses industrial (manufaktur) berkualitas six-sigma, jika tidak pernah mengalami sendiri tetesan keringat dan darah akibat satu sekrup ketinggalan dipasang?

 

Ekuslie Goestiandi

*Dimuat dalam SWA edisi XXX/ 1-9 Juli 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: